Kamis, 9 September 2010
PolitikHukum & KriminalEkonomiBisnisMetropolitanNusantaraOlah RagaInternasionalHiburanOpiniHumor
  
Surat Pembaca 
Liputan Khusus
Wanita
Sehat
Otomotif
Teknotrend
Wisata
Budaya
Griya
Olah Raga
Games
Pentas
Konsultasi
Sambut Idul Fitri
Tinggalkan Ramadhan
Momentum Lebaran
Bangun Kerukunan
Sikap Tegas Berunding
dengan Malaysia
Apresiasi bagi
Petugas 'Mudik'
Tekadkan Politik Zero Debt
Angin pun Berbicara
Jangan Egois!
Meredam Konflik
RI - Malaysia
Uji Emisi, Bajaj
dan Motor 2 Tak
SDM Berkualitas
dan Bermoral
Bantuan untuk Warga
Miskin Sangat Perlu
Penurunan Hasil Panen,
Adakah Solusi?
Kenaikan Gaji PNS
arsip  
Sambut Idul Fitri
Tinggalkan Ramadhan
Momentum Lebaran
Bangun Kerukunan
Sikap Tegas Berunding
dengan Malaysia
Apresiasi bagi
Petugas 'Mudik'
Tekadkan Politik Zero Debt
Angin pun Berbicara
Jangan Egois!
arsip  
Rumors
Rumors
Rumors
Rumors
Rumors
Rumors
arsip  
Kembali ke Fitrah
Reshuffle kabinet
Memang Ada Urgensinya
Indonesia dan Bencana
Irak Menyongsong
Tahap Normalisasi
Musim Mudik Datang
Semua Dituntut Waspada
Sudahkah DPR Merakyat?
arsip  
 
 
Menuju Kemakmuran
Rakyat Aceh


Senin, 8 Februari 2010
Tak ada lagi perang di Aceh. Semuanya telah berakhir damai sejak MoU Helsiki disepakati pada 15 Agustus 2005 lalu. Kini Aceh sedang membangun rumah, masyarakat, ekonomi, sosial budaya, infrastruktur, akses informasi, dan sederet upaya lainnya yang berarti membuka diri untuk menantang arus globalisasi.

Setelah perdamaian tercipta, mungkinkah Aceh seperti Singapura, Malaysia atau China yang sudah lebih maju dari Indonesia? Aceh kini sudah terbuka lebar bagi dunia. Siapa pun diterima-asal niat dan tujuannya baik-untuk menginjak tanah Aceh, tanpa perlu khawatir tertembus peluru dari belakang.

Orang Aceh juga sudah bebas bepergian dan pulang sesuka hati. Artinya, kita tak perlu lagi berdiam diri, keluarlah untuk melihat dunia dan undanglah tamu untuk membawa dunia ke Aceh. "Aceh menjadi baru dan maju".

Namun, apa benar seperti itu yang kemudian terjadi di Aceh? Apakah ada "api dalam sekam" yang setiap saat memunculkan kobaran api dan melahap apa saja yang ditemuinya?

Apakah pemimpin yang sekarang memimpin masyarakat Aceh telah benar-benar menjadi pelayan rakyat atau "pembantu" masyarakat? Mereka yang terpilih atau mengajukan diri menjadi pelayan masyarakat, mulai dari pucuk pimpinan Aceh (gubernur dan wakilnya) hingga ke keuchik (kepala desa) sudah merasa sebagai bagian dari warga masyarakat Aceh? Jadi, bukan sebagai pihak yang harus dilayani. Apalagi, justru menjadi hamba dan pelayan bagi organisasi yang sudah membesarkan dan mengantarkannya meraih kekuasaan?

Kalau dugaan-dugaan itu akhirnya terbukti, tidak ada kata dan pilihan lain bagi masyarakat Aceh, kecuali "selamat datang" kembali ke suasana ketakutan dan keterpurukan, seperti yang pernah mereka alami berpuluh-puluh tahun lamanya.

Sebab, bukan tidak mungkin, GAM akan kembali mengobarkan dan memperjuangkan ide kemerdekaannya, terlepas dari rakyat Aceh setuju ataupun tidak. Di lain pihak, pasti Pemerintah RI, melalui TNI-nya, akan meredam aksi GAM yang mengkhianati kesepakatan damai dan memberontak itu demi tetap tegaknya keutuhan dan kedaulatan bangsa dan negara Indonesia. Dan, yang terjadi sudah dapat diduga, yakni Aceh kembali membara dan konflik bersenjata akan terulang kembali.

Apa itu yang kita inginkan? Tentu saja bukan. Kalau begitu, janganlah saudara-saudaraku warga Aceh takut dan termakan propaganda baik KPA maupun PA yang membawa ide dan kepentingan GAM.

Tapi, ikuti mereka juga para pemimpin Aceh lainnya selama program dan kegiatan mereka adalah semata untuk memakmurkan Aceh dan membawa kesejahteraan bagi segenap rakyat Aceh.

Ari Sulistyowati S.Sos
Bogor
Jawa Barat

Politik |  Hukum |  Ekonomi |  Metropolitan |  Nusantara |  Internasional |  Hiburan |  Humor |  Opini |  About Us

Copy Right ©2000 Suara Karya Online
Powered by Hanoman-i