KEDAULATAN NKRI Badan Perbatasan Jangan Tambah Kerumitan Birokrasi
Selasa, 9 Februari 2010
JAKARTA (Suara Karya): Dalam rangkat menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), pembentukan Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) diharapkan tidak menambah panjang jaring kerumitan birokrasi.
Hal itu dikemukakan anggota Komisi I DPR dari Fraksi Partai Golkar Fayakhun Andriadi, di Jakarta, Senin (8/2).
"Mesti dipahami betul, BNPP itu harus mampu mewujudkan kehadiran negara, kewibawaan negara di lini terdepan RI. Jadi, bukan sekadar menambah birokrasi dan beban anggaran negara," katanya.
Ia mengatakan itu terkait lahirnya Peraturan Presiden (Perpres) tentang BNPP guna mendorong percepatan pengembangan dan pemberdayaan kawasan perbatasan RI, termasuk pulau-pulau terdepan.
"Kami harus terus mengingatkan soal fenomena birokrasi itu, sebab kami melihat badan-badan yang dibentuk selama ini terkesan identik dengan situasi itu, yakni kerumitan birokrasi yang berakibat tidak efektifnya penanganan masalah atau kurang signifikannya target yang dicapai," katanya.
Pengelola Perbatasan
Namun, menurut dia, kehadiran BNPP bisa berbeda, terutama dalam setiap kiprahnya menjalankan pengelolaan kebijakan di lingkungan pemerintah pusat hingga ke daerah secara saling mendukung.
"Apalagi pengelolaan wilayah perbatasan melibatkan berbagai sektor kehidupan masyarakat, seperti sektor sosial, ekonomi, politik dan budaya," ujarnya.
Andriadi mengharapkan pengelolaan perbatasan harus lebih mengandalkan tindakan afirmatif (affirmative action).
"Yaitu, bahwa biaya pengamanan wilayah perbatasan tidak boleh dihitung untung-rugi secara jangka pendek, namun secara jangka panjang adalah demi menjaga kewibawaan dan kedaulatan negara," ucapnya.
Selain itu, tutur dia, semua elemen dan komponen serta sumberdaya di kawasan perbatasan mampu melindungi warga negaranya, sekaligus melindungi SKA-nya.
"Sekali lagi intinya bahwa BNPP harus mampu mewujudkan kehadiran negara, kewibawaan negara, di lini terdepan RI, sebagai beranda depan negeri yang maju, sejahtera dan bermartabat," kata Fayakhun Andriadi. (Yudhiarma)
|
|