Kamis, 9 September 2010
PolitikHukum & KriminalEkonomiBisnisMetropolitanNusantaraOlah RagaInternasionalHiburanOpiniHumor
  
Breaking News 
Liputan Khusus
Wanita
Sehat
Otomotif
Teknotrend
Wisata
Budaya
Griya
Olah Raga
Games
Pentas
Konsultasi
Suara Karya
Tidak Terbit
Nama Calon Kapolri Diserahkan Setelah Lebaran
Jalur Nagrek Macet Total
Tol Merak Alami Antrean Panjang, Sistem Buka Tutup Dilakukan
Di Stasiun Jatinegara, Pemudik Antri Sejak Pagi
Di Pelabuhan Merak, Ribuan Pemudik Padati Loket Penumpang
Di Pantura, SPBU Diserbu Pemudik Motor
Harga Terigu Naik Bertahap Setelah Lebaran
Presiden Open House Hari Pertama Lebaran
Idul Fitri Diperkirakan Jatuh Pada 10 September 2010
Uang Beredar Naik Rp 38 Triliun Selama Ramadhan
Desain Gedung DPR TIdak Akan Diubah
arsip  
 
 
8.000 Perempuan Kongo Diperkosa

Selasa, 9 Februari 2010
JAKARTA (Suara Karya): Lebih dari 8.000 perempuan di Republik Demokratik Kongo (DRC) mengalami pemerkosaan sepanjang tahun 2009. Hal ini ditengarai dilakukan oleh faksi-faksi yang berperang, baik tentara pemberontak maupun tentara pemerintah.

Menurut laporan Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Dana Populasi (UNFPA), Senin, tentara pemberontak suku Hutu (FDLR) diyakini sebagai pihak yang paling banyak melakukan pemerkosaan. "Anggota-anggota tentara nasional (FARDC) juga melakukan kekerasan seksual di propinsi Kivu Utara dan Selatan," kata pernyataan UNFPA.

Republik Demokratik Kongo (DRC), untuk membedakan dengan negara tetangganya Republik Kongo, merupakan negara yang telah bertahun-tahun dilanda perang saudara.Dalam lima tahun terakhir, konflik yang terus bergejolak di negara bekas jajahan Belgia tersebut, melibatkan tentara Pemerintah DRC, yang didukung Zimbabwe, Angola dan Namibia, dengan milisi pemberontak --yang didukung Rwanda dan Uganda.

Kendati kesepakatan damai dan pembentukan sebuah pemerintahan transisi telah ditandatangani pada tahun 2003, pertikaian terus berlangsung, terutama di wilayah bagian timur.Di wilayah itu, perkosaan dan kekerasan seksual lainnya terhadap perempuan kerap terjadi dan disebut-sebut merupakan yang terburuk di dunia.

Konflik berdarah selama lima tahun terakhir dilaporkan telah menewaskan jutaan warga, termasuk mereka yang terkena dampak perang hingga mengalami kelaparan dan didera berbagai penyakit.Melalui mandat Dewan Keamanan tahun 1999, PBB mengirimkan pasukan penjaga perdamaian untuk memantau pelaksanaan perjanjian Lusaka tahun 1999, yakni kesepakatan gencatan senjata antara DRC dengan kelima negara di kawasan Afrika tengah yaitu Zimbabwe, Angola dan Namibia. Pasukan penjaga perdamaian PBB di DRC (MONUC), saat ini berkekuatan sekitar 5.500 tentara dan 500 pemantau militer dari puluhan negara, termasuk Indonesia.(AP/Antara)


Politik |  Hukum |  Ekonomi |  Metropolitan |  Nusantara |  Internasional |  Hiburan |  Humor |  Opini |  About Us

Copy Right ©2000 Suara Karya Online
Powered by Hanoman-i