PENYAKIT MEMATIKAN Tidak Selingkuh, Ribuan Ibu Terkena HIV-AIDS
Jumat, 24 Desember 2010
Kasus HIV-AIDS masih menjadi persoalan kesehatan terbesar di Indonesia. Sebab, dari segi jumlah pengidap, angkanya tidak pernah turun. Di sisi lain, ada fakta mengejutkan bahwa pengidap HIV-AIDS tertinggi justru berada di kalangan ibu rumah tangga. Hal itu jelas bertentangan dengan pemahaman awam bahwa penularan HIV-AIDS hanya sebatas di kalangan berisiko, yaitu penjaja seks komersial.
Data Kementerian Kesehatan hingga Maret 2010 menyebutkan, secara akumulatif kasus AIDS di Indonesia mencapai 20.564 kasus. Dari jumlah itu, sebanyak 1.970 kasus diidap oleh ibu rumah tangga yang tak pernah bersentuhan dengan seks bebas. Sedangkan pada populasi berisiko tinggi terhadap HIV-AIDS seperti penjaja seks, hanya ditemukan 604 kasus.
Kondisi ini, menurut Nafsiah Mboi, Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN), terbilang ironis. Ibu rumah tangga yang tidak pernah bersinggungan dengan dunia seks bebas justru terkena HIV-AIDS akibat tingkah suaminya di luar rumah.
"Angka itu kemungkinan bisa lebih besar lagi karena banyak ibu rumah tangga yang tak pernah berpikir sedikit pun bakal terkena penyakit yang berhubungan dengan seks bebas. Mereka tidak sadar, penyakit itu ditularkan suaminya yang ternyata sering 'jajan' perempuan di luar rumah," kata Nafsiah.
Ditambahkan, gagalnya penanggulangan HIV-AIDS karena belum berjalannya program kondomisasi akibat adanya resistensi dari masyarakat. Ada persepsi yang salah di masyarakat bahwa populasi berisiko seperti PSK adalah satu-satunya sumber penularan HIV.
"Padahal, kaum laki-laki hidung belang yang tidak mau pakai kondom itulah sejatinya menjadi sumber penularan paling banyak. Jika si istri hamil, kondisi ini bak lingkaran setan karena bayi yang tak berdosa pun terancam tertular virus HIV," tuturnya.
Saat ini, menurut Nafsiah, sudah ribuan ibu yang tidak pernah berselingkuh dan ribuan bayi yang tertular HIV lantaran penolakan program kondomisasi dan partisipasi pria menggunakan kondom yang rendah. "Bukannya ingin melegalkan seks bebas lewat kondomisasi, tapi kenyataan kondom bisa membentengi mereka yang suka berganti-ganti pasangan dari terkena HIV-AIDS," ucapnya.
Hal senada dikemukakan Direktur Pelayanan Kesehatan Yayasan Kusuma Buana, Adi Sasongko. Keberhasilan Thailand dalam menekan angka kasus HIV-AIDS karena negara itu mampu menjalankan program kondomisasi. Namun, sayangnya, program kondomisasi kurang berhasil di Indonesia.
"Tanpa kampanye pemakaian kondom, pada 2015 penderita HIV di Thailand diprediksi mencapai 10 juta orang. Tetapi, angka tersebut bisa ditekan hanya menjadi ribuan orang saja hingga tahun ini," kata Adi Sasongko.
Adi menjelaskan, kondom masih menjadi pilihan pencegahan penularan HIV-AIDS pada kelompok seks risiko tinggi. Mengutip laporan New England Journal of Medicine pada 1994, dari 245 pasangan (salah satunya positif HIV), sebanyak 124 pasangan konsisten dengan kondom tidak tertular HIV dari pasangannya yang positif HIV.
"Fakta semacam inilah yang harusnya terus disosialisasi ke masyarakat. Jika tidak, kasus HIV-AIDS di Indonesia tidak akan pernah turun," ujarnya.
Pernyataan Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P3L) Departemen Kesehatan, Tjandra Yoga Aditama, bahwa pertumbuhan kasus HIV-AIDS hingga enam kali lipat dibanding empat tahun lalu, menunjukkan kasus HIV-AIDS tak bisa lagi dianggap enteng. Begitu juga sebaran kasusnya yang mulai merata di seluruh provinsi.
"Pada akhir tahun 2000 terdapat 16 provinsi yang melaporkan kasus AIDS, kemudian bertambah menjadi 25 provinsi tahun 2003, dan pada akhir 2008 jumlahnya meningkat menjadi 215 kabupaten/kota di 32 provinsi. Dulu Papua adalah provinsi dengan penderita HIV-AIDS tertinggi. Kini diduduki Jawa Barat, Jawa Timur, dan DKI Jakarta," ujar Tjandra Yoga.
Karena HIV-AIDS menyebabkan meninggalnya banyak orang dewasa muda-sebagai populasi pembayar pajak, maka hal itu memberi tekanan pada keuangan negara dan memperlambat pertumbuhan ekonomi. Efek melambatnya pertumbuhan jumlah wajib pajak akan makin terasa apabila terjadi peningkatan pengeluaran untuk penanganan orang sakit dan perawatan yatim piatu korban AIDS.
Pada tingkat rumah tangga, HIV-AIDS menyebabkan hilangnya pendapatan dan meningkatnya pengeluaran kesehatan oleh suatu rumah tangga. Berkurangnya pendapatan menyebabkan berkurangnya pengeluaran dan terdapat juga efek pengalihan dari pengeluaran pendidikan menuju pengeluaran kesehatan dan penguburan.
Melihat dampak HIV-AIDS terhadap perekonomian negara, masihkah kita menutup mata atas kasus HIV-AIDS di Tanah Air? (Tri Wahyuni)
|
|