Ekses Lain Demo Anarkis
Rabu, 11 April 2012
Harus diakui bahwa isu kenaikan harga BBM telah berhasil membuat tegang di beberapa kota termasuk Jakarta. Hal ini disebabkan oleh guncangan gelombang aksi demonstrasi dengan segala pernak-perniknya mulai dari pemblokiran jalan hingga keanarkisan.
Dampak yang sangat terasa adalah sulitnya warga masyarakat untuk mengakses jalanan yang menjadi arena demonstrasi. Alasannya, bukan sekadar karena jalan ditutup, melainkan juga karena khawatir akan adanya tindakan kekerasan yang dapat membahayakan mereka ketika melintasi arena itu.
Ketika demonstrasi memanas akibat massa berhadap-hadapan dengan aparat keamanan, kericuhan kadang sulit dihindarkan. Lemparan batu akan melayang ke sembarang arah dan jatuh bebas ke mana pun, menimpa kendaraan umum dan penumpang di dalamnya.
Walhasil, beberapa instansi memulangkan stafnya lebih awal sebelum demo menjadi anarkis, atau bahkan meliburkannya dengan alasan keamanan. Bahkan, ada juga orangtua yang melarang anaknya pergi ke sekolah atau kuliah. Demikian, Jakarta di satu sisi menjadi begitu ngeri, menakutkan, akibat demonstrasi yang terjadi.
Aksi demo tampaknya tidak berhenti dengan dibatalkannya kenaikan BBM per 1 April 2012, karena demo-demo ke depan masih terus terjadi. Hal itu disebabkan oleh konsekuensi dari keputusan hasil Sidang Paripurna yang menunda kenaikan harga BBM melalui revisi pasal 7 UU tentang APBN 2012 dengan penambahan ayat 6a.
Para pendemo jalanan bukan hanya menuntut agar BBM tidak dinaikkan tetapi juga melakukan tindakan inkonstitusional dengan menuntut pemerintahan SBY-Boediono turun. Demo penolakan harga BBM hanyalah sasaran antara. Sementara tujuan yang diduga lebih jahat sebenarnya adalah ingin menggulingkan pemerintahan sah. Tindakan kaum intelektual ini tentu sangat bertentangan dengan ilmu pengetahuan yang dimilikinya.
Masyarakat sendiri, melihat tindakan anarkis yang dilakukan oleh para pendemo sebenarnya merasa gerah dan geram. Aksi para demonstran, terutama pada tanggal 30-31 Maret lalu, hanya membuat mobilitas terganggu akibat lalulintas macet. Demonstrasi itu sendiri hanya mampu meneriakkan suara 'perlawanan' terhadap kebijakan pemerintah, seperti "Turunkan harga BBM! Turunkan SBY-Boediono!" dan lain sebagainya, tanpa memberikan usulan solusi konkrit kepada pihak yang mereka teriaki.
Demonstrasi yang diangap sebagai jalan penyelesaian masalah krusial, ternyata malah menyebabkan masalah lain dengan rusaknya sejumlah fasilitas umum, seperti pintu tol, pagar dan pintu gerbang gedung DPR yang roboh, kendaraan dibakar, dan bermacam aksi anarkis lainnya. Sayang memang, kalau mahasiswa sudah kehilangan intelektualnya.
Sugiyatno
Kp Gebang, Periuk
Kota Tangerang
|
|