Senin, 20 Mei 2013
PolitikHukum & KriminalEkonomiBisnisMetropolitanNusantaraOlah RagaInternasionalHiburanOpiniHumor
  
Surat Pembaca 
Liputan Khusus
Wanita
Sehat
Otomotif
Teknotrend
Wisata
Budaya
Griya
Olah Raga
Games
Pentas
Konsultasi
Ayo Bangkit...
Tingkatkan Kualitas Produk Lokal
Benarkah LHI dan AF
Setali Tiga Uang?
Harga Pangan
Tak Kunjung Turun
Kondisi Stasiun
Kian Tertata Apik
WNA Tidak Bayar
Pesangon PHK
Menunggu Kepastian
Harga BBM
Tarif Tol dan
Kondisi Jalan Reguler
Soal Kebanggaan Gunakan
Produk Dalam Negeri
Ekonomi Nasional Meningkat
Sesuai Target Awal
BBM Membuat Rakyat Bingung
Klarifikasi Berita Reklamasi Pantura Jakarta
Lagi-lagi, Sampah!
arsip  
Ayo Bangkit...
Tingkatkan Kualitas Produk Lokal
Benarkah LHI dan AF
Setali Tiga Uang?
Harga Pangan
Tak Kunjung Turun
Kondisi Stasiun
Kian Tertata Apik
WNA Tidak Bayar
Pesangon PHK
Menunggu Kepastian
Harga BBM
arsip  
Rumors
Rumors
Rumors
Rumors
Rumors
Rumors
arsip  
Presensi Wakil Rakyat
Menanti Eksekusi
Terpidana Narkoba
Waduk Pluit Milik Publik
Jerat Pajak
Pemburu Suap
Caleg Pembolos
Silakan Minggir
Budaya Malu
Kegagalan UN
arsip  
 
 
Menuntut Keseriusan
Berantas Narkoba


Kamis, 12 April 2012
Beberapa waktu lalu, saya mendapatkan sebuah kabar yang sungguh menyedihkan. Anak dari sahabat orangtua saya, meninggal dunia dalam keadaan overdosis. Umurnya baru sekitar 25 tahun. Dia adalah anak tertua sahabat orangtua saya itu. Ia adalah harapan keluarga, dan tentu saja sejuta asa telah digantungkan kepadanya.

Ihwal keterlibatan sang anak dengan narkoba sebenarnya bukanlah hal yang baru. Yang bersangkutan, dalam beberapa tahun belakangan memang sudah sa ngat menyusahkan orangtuanya karena terlibat pemakaian narkoba. Bahkan belakangan dia sempat dikejar-kejar polisi karena dinilai menjadi salah satu bandar yang dianggap paling berbahaya di kota kami.

Sudah tak terhitung berapa biaya yang dihabiskan orangtuanya untuk mengurus permasalahan yang menimpa anak tersebut. Belum lagi, rasa malu, dan tentu kesedihan luar biasa sebagai orangtua, yang pastinya dianggap sebagai orangtua yang gagal mendidik anaknya. Beberapa tahun terakhir kehidupan orangtuanya hanyalah sibuk memulihkan dan melepaskan ketergantungan anaknya pada narkoba.

Namun, berita terakhir yang kami terima sungguh membuat miris. Usaha mereka layaknya sia sia. Seberapa besar apa pun upaya pemulihan yang dilakukan tak membuahkan hasil, karena anak mereka seperti terus dikuntit para pengedar, para bandar, dan jaringan yang sudah mengakar kuat di negara ini. Tak ada kesempatan bagi pecandu yang bertobat untuk sembuh.

Kematian, sepertinya adalah nasib akhir para pencandu narkoba di negara ini, dan pastinya di seluruh belahan dunia lainnya.

Kabar di berbagai media yang menyebutkan betapa kuatnya jaringan narkoba di Tanah Air, yang bahkan telah dikendalikan dari balik penjara, membuat saya tersadar bahwa nasib yang menimpa sahabat orangtua kami itu wajar jika melihat mengerikannya peredaran narkoba di Indonesia. Bahkan, ranah hukum, penjara, yang seharusnya menjadi tempat membuat para perusak moral generasi muda itu bertobat pun, tak mampu berbuat banyak. Malah, konon kabarnya, uang telah membuat para pengelola lapas terhanyut, bahkan beberapa di antara mereka ikut terlibat jaringan pengedar narkoba itu.

Menurut saya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) harus turun tangan langsung dalam memberantas narkoba. Jangan percaya saja dengan bawahannya. Pasalnya, jaringan ini didukung oleh kekuatan dana yang sangat besar. Jangan beri ampun kepada para pengedar narkoba. Jika sekali saja kita lengah, bersantai dan menganggap enteng masalah ini, maka akan semakin banyak generasi muda yang hilang. Akan banyak anak-anak lain yang mati sia sia karena barang terlarang itu. Lalu, bagaimana dengan masa depan bangsa ini?

Fadriah Sungkar
Empang, Bogor
Jawa Barat

Politik |  Hukum |  Ekonomi |  Metropolitan |  Nusantara |  Internasional |  Hiburan |  Humor |  Opini |  About Us

Copy Right ©2000 Suara Karya Online
Powered by Hanoman-i