Rabu, 19 Juni 2013
PolitikHukum & KriminalEkonomiBisnisMetropolitanNusantaraOlah RagaInternasionalHiburanOpiniHumor
  
Nusantara 
Liputan Khusus
Wanita
Sehat
Otomotif
Teknotrend
Wisata
Budaya
Griya
Olah Raga
Games
Pentas
Konsultasi
PENERIMAAN MAHASISWA
Ratusan Peserta SBMPTN Tak Hadir
PELANGGARAN HUKUM
Polisi Tangkap para Penimbun BBM
PESERTA SBMPTN
Pakai Kartu Peserta Palsu,
Syerly Korban Penipuan
BALI
Wali Murid Laporkan
Guru Gelapkan Tabungan
KINERJA APARATUR
Gubernur Jabar Raih
Penghargaan dari Mendagri
PAPUA BARAT
Lampu Suar Tanjung Bokoi
Sudah Aktif Kembali
KESEHATAN
Semarang Rintis
Puskesmas Ramah Lansia
YOGYAKARTA
Keluarga Sakinah Benteng
Hadapi Godaan Duniawi
PESTA KULINER
TBY Kembalikan Khitah Pasar Kangen Jogja
HUT KE-46
Pemkab Sorong Fokus
Bangun Jalan AIMAS
KILAS METROPOLITAN
Caleg Golkar Indramayu Memenuhi Syarat
PAPUA BARAT
Keselamatan Pelayaran
Tanggungjawab Bersama
arsip  
 
 
WILAYAH LANGGANAN BANJIR
Penurapan Kali Mookervart Tidak Tuntas


Selasa, 17 April 2012
JAKARTA (Suara Karya): Penurapan dan normalisasi Kali Mookervart oleh Kementeriaan Pekerjaan Umum dan Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta yang tidak tuntas, membuat warga bantaran kali di Kelurahan Rawa Buaya, Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat masih menjadi langganan terendam banjir.

"Penurapan Kali Mookervart tidak tuntas, masih ada lebih kurang 150 meter tanggul di daerah Rawa Buaya, yang belum diturap, akibatnya pada saat kali itu banjir, airnya meluap, bisa menggenangi permukiman penduduk. Disamping itu, yang sudah diturap, malah dikasih puluhan lubang berdiameter duapuluh cm, sehingga saat musim hujan, terjadi banjir, air meluap menggenangi warga," ujar Wakil Ketua DPRD DKI Inggard Joshua, Minggu (15/4).

Politisi Partai Beringin ini heran, mengapa lurah Rawa Buaya, membiarkan penurapan tidak tuntas. Seharusnya, lurah ikut mengawasi kerja kontraktor yang meninggalkan pekerjaan yang belum tuntas.

"Saya juga heran, tanggul yang diturap kok dikasih lubang-lubang yang cukup besar, sehingga pada saat banjir, airnya menyemprot ke permukiman warga, sehingga mereka terkena banjir," kata Inggard. Inggard yang juga Koordinator Komisi A (Bidang Pemerintahaan) DPRD DKI itu mengharapkan musyawarah rencana pembangunan (Musrenbang) tingkat Kelurahan Rawa Buaya, Kecamatan Cengkareng dan Wali Kota Jakarta Barat, bisa mengimplementasikan penyelesaian penurapan kali Mookervart oleh Kementeriaan Pekerjaan Umum dan Dinas Pekerjaan Umum DKI.

"Penurapan dan pengerukan Kali Mookervart harus selesai tahun 2012 dan paling lambat 2013, sehingga warga di Rawa Buaya tidak kebanjiran lagi," kata Inggard menegaskan.

"Warga di sini mendukung 100 persen upaya Kementeriaan Pekerjaan Umum dan Dinas PU DKI menormalisasi Kali Mookervart dan Kali Angke yang melintasi wilayah kami," ujar Ade Rohadi, warga RT 013/ RW 02 Kelurahan Rawa Buaya, Cengkareng, Jakarta Barat.

Selama ini, kata Ade Rohadi, Kelurahan Rawa Buaya menjadi daerah langganan banjir. Sebab, wilayah tersebut dilintasi Kali Mookervart yang selama ini belum dikeruk dan dipenuhi bangunan liar. Akibatnya, air seringkali meluap ke pemukiman warga.

Begitu mengetahui Pemprov DKI tengah memulai program normalisasi dengan menertibkan bangunan liar dan juga rencana pengerukan kali, Ade Rohadi sangat bersyukur. "Semoga program tersebut bisa secepatnya selesai," kata Ade Rohadi berharap.

Ade Rohadi mengharapkan, Pemprov DKI juga menambah jumlah pompa air di wilayah Rawabuaya.

Camat Cengkareng, Rohali mengatakan, saat ini Pemprov DKI memang tengah melakukan normalisasi kali untuk menanggulangi banjir. Dan kebetulan untuk wilayah Kecamatan Cengkareng yang dilalui Kali Mookervart dan Kali Angke juga akan dinormalisasi. Untuk itu, Rohali sangat berharap seluruh masyarakat mendukung program tersebut. "Saya berharap masyarakat mendukung program ini," katanya. (Yon Parjiyono)

Politik |  Hukum |  Ekonomi |  Metropolitan |  Nusantara |  Internasional |  Hiburan |  Humor |  Opini |  About Us

Copy Right ©2000 Suara Karya Online
Powered by Hanoman-i