JALAN-JALAN KE CHINA Melelahkan tapi Mengasyikkan
TIDAK SIAP -- Peserta tour ke manca negara tidak hanya harus siap kantong, tetapi juga fisik. Jika tidak, bisa terkapar karena kram otot betis, seperti di alami seorang rekan saat menyusuri Forbidden City dalam sepekan tour ke China, pekan lalu. (Suara Karya/Djunaedi Tjunti Agus)
Rabu, 18 April 2012
MENYAKSIKAN para turis melakukan wisata secara berombongan, diantar bus berpendingin (AC) ke berbagai tempat wisata, pusat perbelanjaan, dan makan di restoran mewah, sudah menjadi pemandangan biasa di beberapa kota besar di China. Hal serupa juga menjadi keseharian di beberapa negara tujuan wisata, seperti Singapura, Thailand, Hong Kong, serta di banyak negara di Eropa. Lalu bagaimana di Indonesia?
Kecuali di Bali, pemandangan di atas masih sangat jarang ditemukan di beberapa kota besar lainnya di Indonesia. Para turis berwisata secara berombongan jarang menggunakan bus-bus besar. Bahkan lebih banyak yang jalan dalam kelompok-kelompok kecil. Karena itu, tidak mengherankan jika di Bali, usaha sewa (rental) mobil ukuran kecil (minibus) dan sepeda motor lebih diminati.
Terus terang, sebagai wartawan yang termasuk kerap mendapat tugas ke berbagai negara, saya "ngiri" atas pelayanan yang diterima rombongan wisata di beberapa negara. Perjalanan dan tempat-tempat yang akan mereka kunjungi tertata rapi. Dalam hati ada keinginan berkunjung ke luar negeri khusus berwisata dalam satu grup tur, tanpa ada tugas sebagai wartawan.
Impian menjadi kenyataan. Kami, rombongan 20 orang yang sebagian besar berprofesi wartawan, mendapat kesempatan melakukan tur ke China-Beijing, Shanghai, dan Guangzhou-tanpa dibebani tugas liputan. Tapi sungguh mengagetkan, tur dalam satu grup wisata ternyata melelahkan. Semua harus tepat waktu, serba diatur, termasuk urusan makan. Sangat beda dengan wisata di sela melakukan liputan-bebas, karena waktu yang memang cukup panjang.
Mengikuti tur paket seminggu, yang seperti kami lakukan, ternyata tidak cukup hanya dengan membayar 1.700 dolar AS setara Rp 15,3 juta, lalu duduk manis untuk diantar ke berbagai tempat wisata, pusat perbelanjaan, dan lainnya. Selain uang, peserta wisata harus siap fisik dan mental. Fisik untuk mendatangi, mendaki berbagai tempat bersejarah, mental untuk mengendalikan diri agar tak terlalu mudah merogoh kocek karena terdorong nafsu belanja.
Kebugaran fisik atau stamina menjadi masalah bagi sebagian peserta grup wisata sejak hari pertama tiba di China. Perjalanan ke Kota Terlarang atau Forbidden City, yang mengharuskan berjalan kaki sejauh 5 km, membuat beberapa peserta kram otot betis, bahkan ada yang jatuh karena tak tahan. Begitu pun ketika berwisata ke Great Wall, sebagian anggota grup mulai mengukur kemampuan.
Tidak hanya itu, dalam berwisata, setiap peserta harus mampu menahan diri jika tidak ingin mengalami nasib apes. Itulah yang dialami beberapa rekan di grup kami. Di satu kota saja, ketika hendak meninggalkan Beijing di bandara menuju Shanghai, seorang rekan kehilangan oleh-oleh satu set keramik mahal berharga ribuan yuan. Di Shanghai, seorang rekan lain tertipu ketika bertransaksi dengan seseorang pedagang keliling penjual I Phone, yang ternyata hanya diberi replika. Padahal, sebelumnya dia telah mencoba keaslian barang.
Banyak pelajaran dapat diraih dari perjalanan tur ke China. Ada yang membuat kesal, tetapi tak sedikit yang dapat dijadikan sebagai contoh. Secara umum, perjalanan sangat mengasyikkan. Di tiga bandara yang dilalui-Beijing, Shanghai, Guangzhou-siapa pun tak akan menemukan calo angkutan atau tawaran silih berganti dari sopir angkutan (mobil) pelat hitam seperti di Bandara Soekarno-Hatta.
Tak satu pun toilet (kamar kecil) umum yang harus bayar, baik di pusat perbelanjaan, tempat pemberhentian bus, restoran. Beda dengan di Indonesia, tak ada yang gratis. Mulai dari pangkalan ojek, terminal, pusat perbelanjaan, tempat wisata, serta tempat-tempat peristirahatan di jalan bebas hambatan (tol).
Siapa pun yang akan terpilih menjadi orang nomor satu di Jakarta (DKI-1) mendatang, apakah Fauzi Bowo, Alex Noerdin, atau yang lainnya, sepantasnya belajar ke China guna membenahi Ibu Kota, mengatasi kemacetan, serta menangani masalah sosial kemasyarakatan. Betapa tidak, untuk angkutan umum saja, misalnya, China tidak hanya memberi banyak pilihan-bus, train, subway, highway-tetapi semua angkutan benar-benar nyaman, bebas berbagai gangguan. Jika angkutan umum di Jakarta senyaman di China, dijamin akan banyak masyarakat mengandangkan mobil pribadi.
Banyak pelajaran yang bisa dicontoh dari China, baik dalam memasarkan proyek wisata maupun produk kerajinan. China mampu memadukan wisata dengan memasarkan kerajinan seperti batu giok, kain/pakaian sutra, serta kuliner.
Indonesia tak kalah dalam tempat-tempat wisata, juga keindahan alam. Jika Shanghai memiliki TV Tower, di Jakarta ada Monas. Taman-taman di Indonesia tak kalah dengan apa yang ada di China, begitu pun dengan tempat-tempat bersejarah. Hanya Indonesia masih perlu belajar dalam memasarkan, yang selama ini terkesan jalan sendiri-sendiri. Belajarlah sebanyak mungkin, meski harus ke negeri China. (Djunaedi Tjunti Agus)***
|
|