PERANG INTELIJEN Iran Tangkap 15 Mata-mata Israel
Kamis, 19 April 2012
TEHERAN (Suara Karya): Kementerian Intelijen Iran mengumumkan bahwa mereka baru-baru ini telah menangkap 15 orang terkait aktivitas mata-mata dan teroris Israel.
Iran juga mengatakan dalam satu pernyataan yang dikeluarkan, kemarin, dalam operasi terakhir yang dilakukan oleh pasukan intelijen Iran, 15 warga yang menjadi mata-mata Israel telah ditangkap.
Kantor berita lokal Mehr mengatakan, salah satu sel teror dan sabotase Israel serta sejumlah pelindungnya telah diidentifikasi dan sekelompok teroris kriminal ditangkap dalam operasi itu.
Kementerian itu mengatakan, Rabu, salah satu misi teroris itu adalah untuk mengidentifikasi dan membunuh salah satu ahli Iran.
Ia juga mengatakan, basis mata-mata Israel di negara tetangga, yang dijalankan oleh badan intelijen Israel Mossad untuk melakukan operasi terhadap kepentingan Iran, juga telah diidentifikasi, kata Press TV.
Iran sebelumnya menuduh Israel melakukan kegiatan intelijen di republik Islam itu dan terlibat dalam pembunuhan ilmuwan nuklir Iran.
Israel dan negara-negara Barat menduga program nuklir Iran dan menuduh Iran melakukan kegiatan senjata dengan kedok program nuklir sipil. Iran membantah tuduhan-tuduhan tersebut dengan menyatakan kegiatan nuklirnya adalah untuk kepentingan "damai".
Pada 10 April lalu, Kementerian Intelijen Iran mengumumkan republik Islam menangkap para anggota sebuah sel penting teroris Israel di Iran.
Sementara itu, Pemerintah Israel tampaknya tidak main-main dengan ancamannya untuk menyerang fasilitas nuklir Iran, meskipun Amerika Serikat terus mendesak untuk tidak terburu-buru memutuskan serangan itu. Israel menegaskan, opsi serangan militer ke Iran masih tetap ada.
Menteri Pertahanan Israel Ehud Barak menegaskan, Pemerintah Israel tak pernah berjanji pada AS untuk tidak menyerang Iran. "Kami tidak menjanjikan apa pun," kata Barak seperti dikutip media Iran, Press TV, kemarin.
Barak juga mencetuskan, negosiasi nuklir antara Iran dan lima negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB: AS, Inggris, Prancis, China, dan Rusia, plus Jerman, sebagai hal yang membuang-buang waktu saja.
Iran dan negara-negara besar tersebut baru menyelesaikan pembicaraan nuklir di Istanbul, Turki, pada Sabtu, 14 April lalu, dan sepakat untuk menggelar pertemuan kembali di Baghdad, Irak, pada 23 Mei mendatang. Baik Iran maupun negara-negara besar itu menyebut negosiasi tersebut sukses dan konstruktif.
Dari Teheran sendiri dilaporkan, penasihat pemimpin tertinggi bidang internasional Iran Ali Akbar Velayati mengatakan, pihak barat untuk pertama kalinya menyetujui hak Iran untuk menggunakan energi nuklir guna kepentingan damai dalam perundingan di Istanbul antara Iran dan Kelompok 5+1.
Di sela-sela pertemuan dengan perwakilan media Mesir di Teheran, Velayati menyebutkan, perundingan di Istanbul sebagai langkah positif. Dia menambahkan, setelah dalam jangka waktu yang lama, negara-negara Barat akhirnya menyimpulkan bahwa Iran tidak menerima bahasa ancaman.
Ia menambahkan, Iran telah berkali-kali menyatakan siap untuk berunding dengan syarat negara-negara Barat berhenti membuat ancaman dan bersiap-siap melakukan pembicaraan dalam rangka peraturan internasional dan menerima hak Iran.
Velayati menyatakan harapannya bahwa perundingan-perundingan itu bisa terus berlangsung positif di masa depan.
Velayati, yang juga Sekretaris Umum Majelis Kebangkitan Dunia Islam, menyebutkan bahwa pertemuannya dengan sekelompok insan media Mesir di ibu kota Iran menekankan perlunya pertukaran pandangan dan mendengarkan gagasan yang beraneka mengenai perkembangan di kawasan tersebut. (AP/Kentos)
|
|