Minggu, 19 Mei 2013
PolitikHukum & KriminalEkonomiBisnisMetropolitanNusantaraOlah RagaInternasionalHiburanOpiniHumor
  
Nusantara 
Liputan Khusus
Wanita
Sehat
Otomotif
Teknotrend
Wisata
Budaya
Griya
Olah Raga
Games
Pentas
Konsultasi
KECELAKAN TAMBANG
Gubernur: Freeport Harus
Utamakan Keselamatan Pekerja
JAMINAN SOSIAL
Jawa Barat Paling Siap Menerapkan SJSN
TERORISME
Pelaku Berencana Ganggu Pemilu 2014
SEPARATISME
Oknum Aparatur Pemerintah Jadi Penyandang Dana OPM
PENUMBUHAN POSDAYA
7 Pemda Se-Keresidenan Pekalongan
Ditantang Berantas Kemiskinan
PENDIDIKAN
Guru Besar Unair: Kurikulum 2013
Sama Persis Semasa VOC
RESTAURANT DAN CULTURAL THEATER
Saptohoedojo Beri Sajian Khusus untuk Wisatawan
PILGUB BALI
Dua Lembaga Survei
"Bersaing" Unggulkan Calon
TAMBANG LONGSOR
14 Karyawan Freeport Ditemukan, 4 di Antaranya Tewas
KOTA SORONG
Warga Mengenal Aiptu LS
sebagai Pengusaha Besar
Kilas Metropolitan & Nusantara
Dinkop Cianjur Sehatkan 170 Koperasi
PEMENGGAL KEPALA
Tersangka Memakan Hati
Ibu Kandung Sendiri
arsip  
 
 
PENGGUGURAN KANDUNGAN
Aborsi di Indonesia
Capai 2,5 Juta Kasus/Tahun


Kamis, 19 April 2012
SEMARANG (Suara Karya): Seksolog dan androlog Profesor dr. Wimpie Pangkahila memperkirakan jumlah perkara aborsi atau pengguguran kandungan di Indonesia setiap tahunnya sebanyak 2,5 juta kasus.

"Kasus aborsi ini tersebar secara merata, baik di wilayah-wilayah perkotaan maupun perdesaan," kata Wakil Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Andrologi Indonesia (Persandi) tersebut di Semarang, Rabu.

Hal itu diungkapkannya di sela lokakarya "Male Infertility" yang menjadi bagian Pertemuan Ilmiah Tahunan Persandi VI dan Perkumpulan Andrologi Indonesia (Pandi) XX yang berlangsung di Hotel Patra Jasa, Semarang.

Menurut dia, kasus aborsi yang terjadi di wilayah perkotaan biasanya oleh oknum dokter, sementara mereka yang tinggal di perdesaan memilih melakukan pengguguran kandungan oleh dukun.

Ia mengungkapkan, tingginya kasus aborsi di Indonesia itu ada kemungkinan akibat makin terbukanya perilaku remaja dalam berpacaran karena peran orangtua dan keluarga dalam mengawasi cenderung longgar.

"Berhubungan seks pada zaman modern sekarang ini tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang 'suci' atau sakral lagi. Jika ada kesepakatan dari si pria dan wanita, terjadilah yang namanya hubungan badan," katanya.

Kalangan remaja pada zaman sekarang, menurut Wimpie, yang juga Ketua Umum Asosiasi Seksologi Indonesia (ASI), menganggap seks pranikah bukan sesuatu yang menyimpang dan cenderung mudah melakukan hubungan seks.

Kehamilan, menurut dia, merupakan konsekuensi dari hubungan seks. Namun, para remaja yang melakukan seks pranikah cenderung menempuh jalan pintas jika terjadi kehamilan, yakni memutuskan melakukan aborsi.

Berdasarkan data Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), menurut dia, setidaknya sekitar 30 persen remaja yang berpacaran mengakui telah melakukan hubungan seks. Namun, kemungkinannya bisa lebih. (Ant/Pudyo Saptono)

Politik |  Hukum |  Ekonomi |  Metropolitan |  Nusantara |  Internasional |  Hiburan |  Humor |  Opini |  About Us

Copy Right ©2000 Suara Karya Online
Powered by Hanoman-i