Rabu, 19 Juni 2013
PolitikHukum & KriminalEkonomiBisnisMetropolitanNusantaraOlah RagaInternasionalHiburanOpiniHumor
  
Tajuk Rencana 
Liputan Khusus
Wanita
Sehat
Otomotif
Teknotrend
Wisata
Budaya
Griya
Olah Raga
Games
Pentas
Konsultasi
Harga Baru BBM
dan Spekulan
Refleksi Cinta Indonesia
Harga BBM dan
Ketidakpastian
Menanti Ketegasan SBY
Jurus Mengatasi Rupiah
Harga Kebutuhan
Pokok Mengancam
Penjahat Makin Berani
Manusiakan TKI
PKS yang Mendua
Kembalikan PRJ
Jadi Pesta Rakyat
Jengkol pun Menggugat
Memahami Gejolak
Kebutuhan Pokok
arsip  
Diputus BBM Naik, Bung!
Menyelamatkan
Industri Nasional
Malu Aku Rusuh
di Negeri Orang!
Memacu Produk
Andalan Dalam Negeri
Tingkatkan Kualitas
Produk Lokal
Tanggapan Mengenai
"Kartu BRIZZI BRI Mengecewakan"
arsip  
Rumors
Rumors
Rumors
Rumors
Rumors
Rumors
arsip  
Harga Baru BBM
dan Spekulan
Refleksi Cinta Indonesia
Harga BBM dan
Ketidakpastian
Menanti Ketegasan SBY
Jurus Mengatasi Rupiah
Harga Kebutuhan
Pokok Mengancam
arsip  
 
 
DKI-1, Ahli Saja
Belum Cukup


Selasa, 24 April 2012
SEBETULNYA permasalahan Jakarta tidak banyak dan itu ke itu saja. Kalau bukan kemacetan lalu lintas, ya banjir. Sementara dari sisi ekonomi, termasuk ekonomi warganya, kemampuannya di atas rata-rata penduduk indonesia lainnya. Tapi untuk memimpin Ibu Kota Negara, ahli saja tidak cukup. Masih dibutuhkan keberanian. Berani memutuskan, berani berbuat, dan berani berinovasi dan terobosan, meski tidak populer di mata sebagian rakyat.

Gubernur Jakarta harus sedikit "diktator" atau "tangan besi". Contoh ideal adalah mantan Gubernur DKI Jakarta (almarhum) Ali Sadikin. Perwira tinggi Marinir itu tak mengenal kompromi dalam memimpin Jakarta. Hasilnya, beliau sukses menyulap kampung besar Jakarta menjadi kota metropolitan. Ali Sadikin bukan ahli, tapi dia berkuasa atas para ahli dalam membangun Jakarta.

Ali Sadikin jago menghimpun dana untuk membangun Jakarta. Dia berani berseberangan dengan elite bangsa, termasuk dengan ulama. Dia pintar dan cerdik. Meski begitu, dia tidak alergi atas kritik dari media massa, bahkan dengan keahliannya dia mampu memanfaatkan pers untuk keuntungan Pemprov Jakarta dan dirinya sebagai gubernur. Bukannya memusuhi pers, atau memilih-milih media sebagai "sahabatnya".

Keberhasilan Jakarta di era Ali Sadikin diakui dan dirasakan semua kalangan, mulai dari seniman, pers, tokoh agama, hingga pemuka masyarakat. Apalagi dunia usaha. Perhatiannya terhadap masyarakat Betawi pun luar biasa. Semua itu ditandai dengan perbuatan nyata. Bukan hanya dalam bentuk seremonial. Karena itu, terkait dengan rencana pelaksanaan pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI, yang akan digelar tiga bulan lagi, elite Ibu Kota perlu membimbing warga Ibu Kota agar tidak salah pilih.

Demi masa depan Jakarta, warga perlu "dilindungi" dari kampanye murahan yang hanya mengumbar janji, termasuk survei-survei bayaran yang berupaya mengarahkan pemilih pada calon tertentu yang tidak memiliki kemampuan. Ingat, Jakarta membutuhkan "orang kuat" yang mampu mengatasi masalah utama di Jakarta, kemacetan dan banjir.

Lalu lintas di jalan raya Jakarta sudah terancam stagnan. Bahkan diperhitungkan tahun 2014 jika tak ada perubahan signifikan, lalu lintas Jakarta tak bergerak. Saat ini saja hampir dari 12 juta kendaraan yang ada (8 juta lebih kendaraan roda empat dan hampir 4 juta roda dua) sudah membuat lalu lintas Jakarta sesak, membuat banyak orang stres. Dapat dibayangkan bagaimana kondisi dua tahun ke depan jika Jakarta salah dalam memilih pemimpin.

Belum lagi dalam menghadapi banjir. Seorang gubernur tidak cukup hanya menyingsingkan celana atau memakai sepatu bot meninjau daerah banjir, tengok sana, tengok sini, lalu membiarkan masalah banjir terselesaikan oleh musim atau waktu. Seorang Gubernur DKI harus mencarikan solusi, mengatasi ancaman banjir yang muncul setiap hujan. Jangan lagi beralasan, banjir Jakarta adalah banjir kiriman, sementara daerah resapan air terus berkurang.

Jadi, untuk DKI-1 tidak cukup hanya seorang ahli, tetapi juga pintar, memiliki program jelas dan dilaksanakan. Kita berharap warga Jakarta tidak salah pilih, memberikan suara hanya karena pemberian sekantong plastik sembako, atau karena "serangan fajar". Peran tokoh masyarakat, organisasi massa, juga media massa amat dibutuhkan. Jangan hancurkan Jakarta hanya karena kepentingan sesaat.***

Politik |  Hukum |  Ekonomi |  Metropolitan |  Nusantara |  Internasional |  Hiburan |  Humor |  Opini |  About Us

Copy Right ©2000 Suara Karya Online
Powered by Hanoman-i