Ancaman bagi TKI Menakutkan
Kamis, 26 April 2012
DERITA yang mendera tenaga kerja Indonesia (TKI) sepertinya tak akan pernah berakhir, paling tidak masih terus membayangi . Perbuatan tidak menyenangkan seperti penyiksaan fisik, pemerrkosaan, bahkan pembunuhan tampaknya bukan puncak dari kekhawatiran yang selalu menghantui para pencari kerja asal dalam negeri. Tetapi setelah menjadi mayat pun keutuhan jasad korban tidak ada jaminan.
Setidaknya itulah yang diduga telah terjadi terhadap tiga jenazah TKI yang masing-masing berasal dari Desa Pancor Kopong Pringgasela Selatan dan Pengadangan, Kecamatan Pringgasela, Kabupaten Lombok, NTB yang dipulangkan dalam keadaan meninggal dengan organ tubuh yang tidak lengkap. Jenazah yang tiba di Tanah Air 5 April 2012 itu diduga menjadi korban perdagangan organ tubuh manusia di RS Port Dickson, Malaysia.
Siapa pun pantas marah, setidaknya merasa prihatin atas musibah itu. Begitu rendah dan murahnyakah nyawa dan organ tubuh anak bangsa, sehingga dengan mudah dipreteli oleh sebuah rumah sakit untuk dijual kepada yang membutuhkan? Kejadian ini merupakan pukulan bagi bangsa dan negara Indonesia yang tentu saja tidak boleh didiamkan. Pemerintah harus bereaksi, tidak hanya Kementerian Tenaga Kerja, Kementerian Luar Negeri, tetapi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pun harus menyikapi masalah ini dengan serius.
Kita berharap Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa tak hanya basa-basi, tetapi serius melakukan investigasi untuk mengungkap tuntas kejadian sesungguhnya yang menimpa tiga TKI di negeri jiran. Untuk sementara ketiga TKI bernama Herman, Abdul Kadir Jaelani dan Mad Noon itu diketahui tewas ditembak polisi Malaysia, dengan alasan menyerang polisi. Lalu ketiga jenazah itu dimanfaatkan rumah sakit, dengan mempreteli organ tubuh mereka.
Kementerian Tenaga Kerja tak boleh lepas tangan. Telusuri secara cermat perjalanan ketiga TKI itu hingga bekerja di Malaysia. Ingat, sudah menjadi rahasia umum tidak sedikit tenaga kerja kita sejak dari Tanah Air hingga negara tujuan diperlakukan sebagai barang dagangan. Mereka ditipu, kemudian diperas. Di tempat tujuan pun keselamatan mereka tak ada jaminan, tak jarang diperlakukan layaknya binatang. Polri seharusnya dapat membantu, memanfaatkan huhungan baik dengan kepolisian Malaysia.
Presiden SBY harus mendesak kedua kementerian tersebut, juga Polri, untuk menuntaskan dugaan pencurian organ tubuh TKI itu. Indonesia harus mencari atau memilih pengacara dengan kemampuan khusus, sehingga masalah ini dapat terungkap tuntas. Jangan abaikan nasib para pekerja kita yang tersebar di berbagai negara. Jangan hanya menghibur mereka dengan sebutan bahwa mereka adalah penghasil devisa potensial, tetapi mereka tak pernah dilindungi.
Pemerintah Indonesia wajib bergerak cepat. Jangan hanya berwacana, mengumpulkan info apa adanya, kemudian membiarkan kasus ini terkubur ditelan bumi sejalan dengan dimakamkannya ketiga jenazah TKI tersebut. DPR sebagai wakil rakyat seharusnya ikut berperan, mendorong pemerintah menuntaskan kasus dugaan pencurian organ tubuh TKI itu, serta tuntut pemerintah meningkatkan perlindungan bagi tenaga kerja kita di luar negeri.***
|
|