ANARKISME Massa Robohkan Patung Mantan Gubernur Lampung
Selasa, 1 Mei 2012
BANDARLAMPUNG (Suara Karya): Ratusan massa yang mengatasnamakan Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) dan Forum Lampung Selatan Bersatu merobohkan patung Zainal Abidin Pagaralam yang berlokasi di Kalianda, Lampung Selatan, Provinsi Lampung. Massa menilai, patung Gubernur Provinsi Lampung (1966-1973) kedua senilai Rp 1,1 miliar ini sebagai pemborosan uang rakyat.
Zainal Abidin (lahir 29 Februari 1916 dan meninggal 6 September 1985), merupakan kakek dari Bupati Lamsel Rycko Menoza. Rycko sendiri adalah anak dari Sjahchroedin ZP yang saat ini menjadi Gubernur Lampung.
Ratusan warga nekat mendaki patung Zainal Abidin. Mereka pun menghantamkan linggis ke kaki patung. Meski malam telah datang, massa bukannya membubarkan diri, tetapi malah terus menyemut. Pendemo kemudian mengikatkan tali ke kepala patung dan menariknya menggunakan truk hingga patung jatuh mencium tanah.
"Patung behasil dirobohkan sekitar pukul 18.45 WIB," kata Heru Pramono, saksi di lokasi kejadian, Senin (1/5) malam. Usai tumbang, massa bersorak gembira.
Sebelum dirobohkan, massa membakar ban bekas di dekat tempat patung itu berdiri. Massa juga sempat melempari patung tersebut dengan batu sehingga mengalami kerusakan pada beberapa bagiannya.
Hingga memasuki petang hari, massa makin banyak jumlahnya. Aparat kepolisian yang jumlahnya sedikit tak mampu membendung mereka. Kemacetan pun tak terhindarkan di jalur trans-Sumatra, khususnya jalur Bakauheni-Bandar Lampung.
Aparat Polres Lampung Selatan (Lamsel) berusaha mengamankan aksi itu. Polisi melakukan negosiasi dengan mereka agar tidak menimbulkan dampak lebih buruk. Aksi massa menolak adanya patung sebenarnya bukan pertama kali terjadi. Bentrok massa pengunjuk rasa dengan kepolisian sudah beberapa kali.
LMND menilai, pembangunan patung itu tidak patut dilakukan mengingat banyak hal lebih prioritas harus dibenahi dan dibangun di kabupaten itu. Prioritas yang dimaksud di antaranya pembenahan infrastruktur publik yang banyak mengalami kerusakan.
Patung Zainal Abidin Pagaralam dibangun di pintu gerbang pusat pemerintahan Kabupaten Lamsel. Patung setinggi 7 meter itu dibangun untuk mengenang jasa Zainal Abidin yang dinilai banyak berjasa terhadap pembangunan Lampung selama kepemimpinannya.
Menanggapi aksi massa di Lamsel, Gubernur Lampung Sjachroedin ZP mengecam keras. "Polisi perlu tegas terhadap demo anarkis, tangkap dan cari penggeraknya," kata Sjahcroedin ZP dalam pesan singkatnya.
Menurut dia, pelaku harus diusut tuntas dan jangan sampai kejadian tersebut kembali terulang karena dapat merugikan kepentingan pengguna jalan di sana.
"Paling-paling motor penggerak dan provokator tidak banyak, Kapolres Lampung Selatan harus mampu menangani persoalan itu," katanya.
Dia menambahkan, kalau Kapolres kabupaten setempat takut menangani kisruh tersebut, maka perlu diganti. Pihaknya menengarai ada kelompok tertentu yang menggerakkan aksi demonstrasi menentang pendirian patung tokoh Lampung yang juga merupakan orangtua kandungnya itu.
"Ah, Saya tidak peduli dengan aksi-aksi itu, tanya sama Jailani dari LMND di sana, apa yang sudah dikerjakan oleh nenek moyangnya untuk kemajuan Lampung," kata Sjachoedin ZP menanggapi aksi penolakan patung dimaksud.
Menurut Sjachroedin, dia tidak akan mundur dengan aksi-aksi masyarakat yang dianggapnya tidak mengetahui persoalan sejarah tokoh-tokoh di Lampung.
Sebelumnya, Humas Pemkab Lamsel saat dijabat oleh Hendry Dunan mengatakan, Zainal Abidin merupakan tokoh masyarakat Lampung yang banyak berbuat banyak untuk kemajuan daerahnya.
"Dari sekian kota dan kabupaten di Lampung, semuanya sudah mengabadikan nama beliau sebagai nama jalan atau nama rumah sakit, hanya Kabupaten Lampung Selatan yang belum mengabadikan nama beliau," ujar dia. Karena itu, pemkab setempat menganggap layak tokoh tersebut diabadikan dalam bentuk monumen patung yang terletak di perkotaan Kalianda. Pembangunan patung itu, menurut dia, menelan biaya senilai Rp 1,1 miliar. Namun, lanjutnya, biaya itu sangat pantas dikeluarkan pemerintah untuk mengenang jasa-jasa Zainal Abidin. (Sadono/Antara)
|
|