PASAR MODAL IHSG Capai Puncak Tertinggi
Jumat, 4 Mei 2012
JAKARTA (Suara Karya): Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di PT Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga penutupan perdagangan Kamis (3/5) mencapai puncak tertinggi di level 4.224 poin masih didorong laporan keuangan emiten triwulan pertama 2012. Hingga sesi penutupan perdagangan saham kemarin, IHSG naik 4,708 poin atau 0,11 persen ke posisi 4.224,003.
Analis Panin Sekuritas Purwoko Sartono mengatakan, pergerakan indeks saham domestik tertolong oleh sentimen laporan keuangan emiten kuartal pertama 2012.
"IHSG akhirnya berhasil ditutup pada area positif setelah bergerak fluktuatif menjelang penutupan," kata dia.
Namun, lanjut dia, penguatan indeks BEI dibayangi oleh melambatnya pertumbuhan ekonomi global menyusul beberapa data ekonomi yang kurang menggembirakan dari China dan Eropa terkait data manufaktur dan tenaga kerja.
Dia memprediksi, diperkirakan indeks BEI akan bergerak mixed dengan kecenderungan melemah pada hari ini pada kisaran support-resistance 4.190-4.232 poin.
Kondisi itu, kata dia, didorong dari saham sektor pertambangan diperkirakan masih akan tertekan pada jangka pendek dimana rencana pelarangan ekspor mineral dalam bentuk mentah akan segera diumumkan oleh pemerintah.
Selain itu, harga komoditas yang masih tertekan akibat indikasi melemahnya perekonomian global juga menjadi katalis negatif.
Frekuensi transaksi perdagangan saham sebesar 158.654 dengan volume mencapai 4,338 miliar lembar saham senilai Rp4,291 triliun. Saham yang mengalami kenaikan sebanyak 149, sementara 110 saham melemah, dan 105 saham tidak bergerak nilainya.
Bursa regional diantaranya indeks Hang Seng melemah 59,55 poin (0,28 persen) ke level 21.249,53, indeks Nikkei-225 naik 29,30 poin (0,31 persen) ke level 9.380,25 dan Straits Times melemah 5,20 poin (0,17 persen) ke level 3.000,94.
Rupiah
Sebaliknya, berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia mata uang rupiah terpantau bergerak melemah menjadi Rp 9.196 dibanding hari sebelumnya Rp 9.193 per dolar AS.
Pengamat pasar uang dari Monex Investindo Futures, Johanes Ginting di Jakarta, mengatakan, nilai tukar rupiah masih diperdagangkan melemah dipicu kondisi krisis utang di Eropa masih berjalan.
"Masih ada potensi bahwa permintaan untuk obligasi Spanyol masih lemah dan hal itu akan mendesak Euro untuk turun," kata dia.
Ia mengemukakan, data pengangguran Eropa naik. Kondisi itu diperburuk juga oleh data manufaktur di kawasan itu yang juga melemah.
Selain itu, lanjut dia, sektor manufaktur Italia menyusut lebih dari perkiraan, dengan pesanan produk turun. Data dari Jerman, Spanyol dan Perancis juga menunjukkan aktivitas pabrik yang merosot secara signifikan. "Negatifnya data-data zona euro tersebut turut menambah spekulasi atas kebijakan moneter yang akan diambil Bank Sentral eropa (ECB)," kata dia.
Dia menambahkan, mata uang dolar AS mendapat sentimen positif dari data tenaga kerja sektor swasta di AS yang dinilai baik.
Selain itu, data manufaktur AS secara tak terduga juga menunjukkan aktivitas pabrik yang meningkat pada bulan April. (Sabpri)
|
|