Rabu, 19 Juni 2013
PolitikHukum & KriminalEkonomiBisnisMetropolitanNusantaraOlah RagaInternasionalHiburanOpiniHumor
  
Berita Pilihan 
Liputan Khusus
Wanita
Sehat
Otomotif
Teknotrend
Wisata
Budaya
Griya
Olah Raga
Games
Pentas
Konsultasi
ALUTSISTA
Tiga CN-235 Segera Perkuat TNI AL
PEMBAHASAN REVISI KUHP
Komisi III Yakin Dapat Menyelesaikan
NTB
Bentrok 2 Kelompok
Mahasiswa Telan Korban Jiwa
IBU KOTA
Kebakaran di Cengkareng
Satu Tewas akibat Tersetrum
DAFTAR CALEG
Sosialisasi Kurang, Pengaduan Minim
TRANSAKSI MENCURIGAKAN
OJK-PPATK Bersinergi Cegah Pencucian Uang
BI RATE
Kinerja Perbankan Tak Akan Jadi Loyo
PEMILU 2014
Gita Enggan Komentari Capres
SELEKSI LPSK
Pansel Jangan Paksakan Penuhi Kuota
IBU KOTA
Dinas Kependudukan Lakukan
Pelayanan hingga Mal
DINAMIKA KOALISI
Rakyat Hukum PKS pada Pemilu 2014
TEKNOLOGI INFORMASI
Mandiri Belanjakan 130 Juta Dolar AS
arsip  
 
 
FINANSIAL
Rupiah dan IHSG Tertekan


Sabtu, 5 Mei 2012
JAKARTA (Suara Karya): Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS anjlok 35 poin menembus level Rp 9.200. Sentimen negatif akhir pekan yang berhembus dari luar dan dalam negeri, membuat rupiah tak mampu bertahan.

Kondisi serupa dialami oleh Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) yang terpuruk 7,32 poin atau 0,17 persen, mengakhiri penguatan yang terus terjadi sepanjang pekan ini.

Nilai tukar mata uang rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta Jumat melemah 35 poin menjadi Rp 9.232 dibanding posisi sebelumnya di posisi Rp 9.197 per dolar AS. Pengamat pasar uang Rully Nova mengatakan, sentimen negatif dari luar negeri masih terkait data keuangan negara-negara di Eropa terutama Spanyol yang yield obligasinya terus mengalami peningkatan. "Sentimen negatifnya cukup kuat," katanya, di Jakarta, kemarin.

Itu masih ditambah dengan data ekonomi Amerika Serikat (AS) juga mengalami perlambatan. Kondisi itu menambah sentimen negatif di pasar keuangan global. "Minimnya sentimen positif membuat pelaku pasar memegang dolar AS karena dianggap bisa menjaga nilai asetnya," ujar dia.

Dari dalam negeri, lanjut Rully, investor uang mengambil posisi wait and see terkait kebijakan yang akan diambil oleh Bank Indonesia dalam rapat Dewan Gubernur pada pekan depan.

Selain itu, ia menambahkan, inflasi April sebesar 0,21 persen dinilai tinggi oleh pelaku pasar, dan belum adanya kepastian kebijakan bahan bakar minyak (BBM) menambah investor enggan masuk ke pasar uang domestik. "Sentimen positif eksternal dan domestik minim, kondisi itu membuat BI tidak terlalu mengintervensi di pasar uang," tuturnya.

Analis pasar uang Lana Soelistianingsih menambahkan, ketidakpastian kebijakan terkait BBM dan pengenaan bea keluar untuk komoditas mineral dalam beberapa hari ini memicu pelemahan rupiah. "Dari sisi eksternal penguatan dolar AS akibat pelemahan euro membuat tekanan tambahan terhadap nilai tukar domestik," katanya.

Kondisi serupa terjadi pada IHSG BEI. Perdagangan saham akhir pekan ini menempatkan indeks turun 7,32 poin atau 0,17 persen ke posisi 4.216,68. Indeks 45 saham unggulan (LQ45) melemah 2,56 poin (0,36 persen) ke level 715,22. Analis Mega Capital Fadillah Qudsi mengatakan, pelemahan IHSG lebih disebabkan faktor teknikal. "Karena indeks BEI sudah menguat selama empat hari," katanya.

Ia menambahkan, pelemahan indeks BEI juga dinilai tidak terlalu dalam seiring masih adanya sentimen positif dari laporan keuangan kuartal pertama di 2012. Ia menilai, sebagian saham-saham di Bursa Efek Indonesia belum masuk kategori over valued, selain itu saham lapis dua juga masih mempunyai potensi penguatan. "Indeks BEI pada pekan depan diperkirakan berfluktuasi dengan kecenderungan melemah. Jika indeks dapat menembus level 4.235 poin diproyeksikan potensi untuk menguat lebih tinggi akan terbuka," kata dia.

Beberapa saham yang mengalami penguatan Jumat ini diantaranya, Delta Jakarta (DLTA) naik Rp 1.000 ke Rp 171.000, HM Sampoerna (HMSP) naik Rp 900 ke Rp 55.700, Mayora (MYOR) naik Rp800 ke Rp 21.000. Sementara yang mengalami pelemahan, Sepatu Bata (BATA) turun Rp 12.200 ke Rp 52.800, Merck (MERK) turun Rp 5.000 ke Rp 145.000, Astra Internasional (ASII) turun Rp 1.500 ke Rp 72.700.

Frekuensi transaksi perdagangan saham sebesar 145.535 dengan volume mencapai 4,054 miliar lembar saham senilai Rp 4,085 triliun. Saham yang mengalami kenaikan sebanyak 106, sementara 175 saham melemah, dan 90 saham tidak bergerak nilainya. (Devita)

Politik |  Hukum |  Ekonomi |  Metropolitan |  Nusantara |  Internasional |  Hiburan |  Humor |  Opini |  About Us

Copy Right ©2000 Suara Karya Online
Powered by Hanoman-i