Chen Guangcheng sebelumnya hanya dikenal sebagai satu dari banyak aktivis pembela HAM di China, yang menderita di bawah kesewenang-wenangan aparat rezim komunis di negeri itu. Namun, Chen punya keberanian luar biasa. Penyandang tunanetra ini nekat meminta suaka politik di Kedutaan Besar AS--aksi yang sempat membuat ketar-ketir diplomat AS sekaligus mengundang amarah petinggi Pemerintah China.
Chen dikenal sebagai aktivis pembela hak-hak sipil bagi penduduk desa yang hak-hak mereka dirampas. Dikenal sebagai "pengacara bertelanjang kaki", Chen belajar hukum secara autodidak dan tidak mengenyam pendidikan formal. Pada 2005 Chen menghimpun dukungan masyarakat untuk mengajukan gugatan publik (class action) atas Pemerintah Kota Linyi di Shandong karena sewenang-wenang menerapkan kebijakan "satu anak cukup".
Akibatnya, Chen harus menjalani tahanan rumah dari September 2005 hingga Maret 2006 sambil menunggu diadili. Pada 22 April 2012, peraih penghargaan Ramon Magsaysay dan Seratus Tokoh Berpengaruh versi Majalah Time ini berhasil lolos dari tahanan rumah dan kabur ke Kedutaan Besar AS di Beijing. (berbagai sumber/Adi)