Sabtu, 18 Mei 2013
PolitikHukum & KriminalEkonomiBisnisMetropolitanNusantaraOlah RagaInternasionalHiburanOpiniHumor
  
Surat Pembaca 
Liputan Khusus
Wanita
Sehat
Otomotif
Teknotrend
Wisata
Budaya
Griya
Olah Raga
Games
Pentas
Konsultasi
Benarkah LHI dan AF
Setali Tiga Uang?
Harga Pangan
Tak Kunjung Turun
Kondisi Stasiun
Kian Tertata Apik
WNA Tidak Bayar
Pesangon PHK
Menunggu Kepastian
Harga BBM
Tarif Tol dan
Kondisi Jalan Reguler
Soal Kebanggaan Gunakan
Produk Dalam Negeri
Ekonomi Nasional Meningkat
Sesuai Target Awal
BBM Membuat Rakyat Bingung
Klarifikasi Berita Reklamasi Pantura Jakarta
Lagi-lagi, Sampah!
Tingkatkan Kualitas Produk Lokal
arsip  
Benarkah LHI dan AF
Setali Tiga Uang?
Harga Pangan
Tak Kunjung Turun
Kondisi Stasiun
Kian Tertata Apik
WNA Tidak Bayar
Pesangon PHK
Menunggu Kepastian
Harga BBM
Tarif Tol dan
Kondisi Jalan Reguler
arsip  
Rumors
Rumors
Rumors
Rumors
Rumors
Rumors
arsip  
Menanti Eksekusi
Terpidana Narkoba
Waduk Pluit Milik Publik
Jerat Pajak
Pemburu Suap
Caleg Pembolos
Silakan Minggir
Budaya Malu
Kegagalan UN
Drama Penyitaan
arsip  
 
 
KRL Commuter line
Minim Petugas,
Penumpang Tak Nyaman


Rabu, 9 Mei 2012
Kehadiran KRL Commuter Line lintas Jabodetabek sebenarnya telah membuat para pekerja yang commute (pulang pergi untuk bekerja) dari daerah penyangga Ibukota ke Jakarta sangat terbantu. Para pekerja dari sekitar Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi sudah akrab dengan moda transportasi ini. KRL Commuter Line menjadi andalan untuk bisa sampai dengan aman, nyaman, dan tepat waktu ke tempat tujuam bekerja.

Namun, entah mengapa, akhir-akhir ini pelayanan Commuterline semakin menurun saja. Saya tak akan membicarakan soal keterlambatan jadual. Karena, untuk masalah yang satu itu, tampaknya masih sulit dibenahi oleh operator yang bersangkutan.

Namun, yang sangat terasa akhir-akhir ini adalah sangat minimnya jumlah petugas yang ada di setiap jadual keberangkatan kereta. Kalau hari Sabtu dan Minggu, bahkan sang petugas kadang bagai hilang ditelan bumi.

Selain untuk memastikan karcis penumpang, dan menghindari penumpang-penumpang liar tanpa karcis, kehadiran petugas Commuter Line sangat dibutuhkan untuk membuat para penumpang bisa lebih tertib dalam berkereta-api.

Sebagai contoh, masih banyaknya para pengguna kereta yang sebelumnya belum pernah menaiki moda transportasi ini, tidak mengetahui aturan naik kereta api. Bahwa ada gerbong khusus untuk wanita di setiap ujung rangkaian, gerbong 1 dan 8. Seringkali, kaum pria yang masuk ke gerbong wanita ini justru marah dan tak terima jika penumpang lain menegur agar yang bersangkutan pindah gerbong.

Mereka bahkan kerap malah mencak-mencak tak mau pindah dengan alasan membawa keluarga yang perempuan. Penumpang-penumpang macam ini takutnya hanya dengan yang berpakaian petugas. Tanpa ada petugas, para pria macam ini makin banyak bermunculan di gerbong wanita, dan mereka pun bertambah seenaknya karena merasa bahwa laki-laki lain pun bisa ada di gerbong wanita.

Di hari Sabtu dan Minggu, hal semacam ini semakin sulit terkendali. Seharusnya dari mulai stasiun keberangkatan, PT KAI bisa menyiapkan infrastrukturnya, bahwa para penumpang laki-laki tak menunggu di barisan gerbong wanita dan sederet lainnya yang bisa membuat semua tertib. Terus terang, sebagai wanita, saya sangat lega dengan adanya gerbong khusus wanita ini. Bahkan, berdesakan seusai kerja pun terasa lebih nyaman karena semuanya wanita. Jangan sampai tingkah penumpang tak tahu aturan membuat KRL kembali jadi tak bersahabat untuk wanita.

Oleh karena itu, saya sangat mengharapkan PT KAI bisa merekrut petugas lebih banyak agar tata tertib berkeretaapi bisa dijalankan oleh semua penumpang.

Meifa Manurung
Taman Yasmin
Bogor

Politik |  Hukum |  Ekonomi |  Metropolitan |  Nusantara |  Internasional |  Hiburan |  Humor |  Opini |  About Us

Copy Right ©2000 Suara Karya Online
Powered by Hanoman-i