CATUR Juara Asia, Irene Kharisma Cetak Sejarah
Senin, 14 Mei 2012
JAKARTA (Suara Karya): Pecatur putri terbaik Indonesia, GMW Irene Kharisma Sukandar, di luar dugaan akhirnya mampu menjuarai Asian Continental Chess Championship yang digelar di Ho Chi Minh City, Vietnam, 5-13 Mei. Irene mencetak sejarah sebagai pecatur putri Indonesia pertama yang menjadi juara Asia.
Di babak kesembilan atau terakhir, Irene menang atas pecatur India, Eesha Karavade. Gelar juara bagi Irene dipastikan setelah pesaing terdekatnya, yang juga pecatur India, Mary Ann Gomez, kalah dari pecatur China, Tan Zhongyi.
Dengan kemenangan pada babak kesembilan, Irene meraih 7 poin, sementara Mary Ann hanya mampu meraih 6,5 poin. Kemenangan Irene ini sebenarnya di luar dugaan. Irene sama sekali tak diunggulkan dalam kejuaraan ini. Prestasi terbaik pecatur berusia 20 tahun ini di Asian Continental Chess Championship juga hanya peringkat keempat.
Gelar juara Irene serta-merta membuat seluruh tim dan ofisial Indonesia terharu. Apalagi di bagian putra, pada kategori open standard chess, pecatur terbaik Indonesia, Susanto Megaranto, gagal memenuhi target untuk bisa menembus lima besar kejuaraan tersebut.
Prestasi yang ditorehkan Irene langsung disambut gembira Wakil Ketua Umum PB Percasi GM Utut Adianto. Menurutnya, Irene memang memiliki potensi, dan ia telah mampu menyabet gelar juara Asia yang persaingannya di Asia cukup ketat. Lawan-lawan terberat level Asia, di antaranya dari China, India, dan Iran, telah bisa diatasi.
"Ini merupakan sejarah, karena belum ada pecatur putri Indonesia yang prestasinya setinggi ini. Ini pertama kali kita sabet juara Asia catur dari putri," ujar Utut saat dihubungi Suara Karya, Minggu (13/5).
Meski bangga, namun Utut juga memberi catatan kepada Irene agar tidak besar kepala dan cepat puas. Ia mengatakan, Irene masih harus terus mengasah kemampuan dan mentalnya. "Karena dia masih labil. Terkadang kalau diberi beban untuk menang, justru ia malah kalah, meski lawan yang dihadapinya bukan unggulan. Ini berkaitan dengan mental bertanding," ujar Utut.
Di kejuaraan Asia kemarin memang Irene tidak dibebani harus juara, karena itu ia mampu bermain lepas. "Terbukti ia bermain bagus dan juara. Jadi, jika di SEA Games, misalnya dia kalah, itu karena faktor beban mental," kata Utut.
Sementara itu, seperti rilis yang diterima Suara Karya, kemenangan pecatur putri terbaik Indonesia, Irene Kharisma Sukandar, diikuti oleh dua orang juniornya, Medina Warda Aulia dan Yemi Jelsen.
Medina yang baru berusia 14 tahun menang atas pecatur tuan rumah Women Grand Master Hoang Thi Bao Tram, sementara Yemi menang atas pecatur asal Kirgistan, Nuriza Otorbaeva.
Bagi Medina, kemenangan ini juga terasa istimewa, karena Hong Thi selain menyandang gelar Women Grand Master, juga merupakan pernah menjuarai Asian Continental Chess Championship. Medina merupakan pecatur putri usia belia yang sedang diproyeksikan mendapatkan gelar Women Grand Master dalam tahun ini.
Hanya sayang, Medina yang ditargetkan meraih norma gelar di kejuaraan ini gagal mendapatkannya. Sepanjang kejuaraan, Medina sebenarnya menghadapi enam pecatur bergelar internasional, di antaranya dua pecatur bergelar Women International Master, tiga pecatur bergelar Women Grand Master, dan satu bergelar International Master.
Sementara dibutuhkan tujuh pecatur yang menyandang gelar internasional untuk bisa memenuhi kualifikasi mendapatkan norma Women Grand Master.
Hasil lainnya di babak kesembilan, pecatur putri Chelsie Monica Sihita hanya mampu meraih hasil imbang dengan pecatur tuan rumah Pham Thi Thu Hoai. Hasil yang sama diraih oleh Dewi AA Citra, yang juga bermain remis dengan pecatur Mongolia, Enkhtuul Altanulzii, sedangkan Virda Rizka Aulia kalah dari pecatur Vietnam, Ton Nu Hong An. (Syamsudin W)
|
|