PENGAMBILALIHAN ASET Negosiasi Pengelolaan Inalum Disiapkan
Rabu, 16 Mei 2012
JAKARTA (Suara Karya): Pemerintah akan melakukan negosiasi pengelolaan PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) tahap pertama pada 30 Oktober 2012.
Ini menyusul berakhirnya master agreement (perjanjian induk) dengan Nippon Asahan Aluminium (NAA) Jepang pada 2013. "Saat ini, pemerintah sedang menyiapkan bahan-bahan untuk proses negosiasi dengan pihak NAA. Rencananya, pada Juni mendatang akan diadakan pertemuan antara tim teknis dari Indonesia dengan pihak NAA," kata Direktur Jenderal Hubungan Kerja Sama Internasional, Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Agus Tjahyana di Jakarta, Selasa (15/5).
Menurut Agus, pembahasan hak dan kewajiban merupakan pembahasan mengenai tahun buku Inalum. Berdasarkan perhitungan, kewajiban yang harus dibayar oleh pihak Indonesia setelah berakhirnya masa master agreement antara Indonesia dan Jepang dalam proyek PT Inalum sekitar Rp 720 juta.
Berdasarkan perhitungan otoritas Asahan, dia mengatakan, pemerintah wajib menyediakan dana sebesar 60 persen dari total nilai buku, yaitu sebesar 762 juta dolar AS. Dalam perhitungan Otorita Asahan proyeksi tahun buku Inalum pada 2013 mencapai 1,272 juta dolar AS, mencakup pembangkit listrik (power plants) 268 juta dolar AS, pabrik peleburan (smelter) 143 juta dolar AS, inventori 148 juta dolar AS, dan aset-aset lain hingga 65 juta dolar AS.
"Klausul yang ditawarkan oleh pihak Nippon Asahan Aluminum (NAA), pemerintah akan mempelajari klausul permohonan tersebut. Kita belum mau berbicara detail mengenai klausul ini," ujarnya.
Ke depan, dia mengatakan, pemerintah berencana akan membangun hilirisasi aluminium dan menjadikan Inalum sebagai kluster aluminium.
Kekurangan
Sementara itu, Ketua Otorita Asahan Effendi Sirait mengatakan, saat ini permintaan aluminium dunia mengalami penurunan akibat krisis ekonomi yang melanda Amerika Serikat (AS) dan Eropa. Namun, di pasar dalam negeri, Indonesia masih kekurangan 200.000 ton aluminium dari kebutuhan nasional sebesar 300.000 ton dan sisanya harus diimpor.
Dia mengatakan, Indonesia merupakan satu-satunya negara di Asia Tenggara yang memiliki industri aluminium dan berbiaya rendah di dunia serta memiliki bahan baku dasar aluminium, bauksit, yang melimpah. "Ironisnya, untuk menutup kebutuhan aluminium nasional, Indonesia masih harus mengimpor," ujarnya.
Dia mencontohkan di Eropa, terutama negara Skandinavia, 95 persen aluminium yang beredar merupakan bahan hasil daur ulang. Sedangkan di dalam negeri, lanjut dia, daur ulang aluminium sangat sulit untuk dilakukan. "Kalau di negara lain sudah banyak yang mendaur ulang untuk memenuhi permintaan sektor industri," katanya.
Dia menambahkan, melemahnya pasar aluminium akibat perlambatan ekonomi global dan menurunkan harga per 14 Mei 2012 sekitar 1.982-2.000 dolar AS per ton. Dibandingkan dengan Mei 2011, harganya mencapai 2.300 dolar AS per ton. (Bayu)
|
|