BENCANA ALAM Empat Kelurahan di Medan Maimun Dilanda Banjir
Jumat, 18 Mei 2012
MEDAN (Suara Karya): Ratusan rumah di empat kelurahan di Kecamatan Medan Maimun, Kota Medan, Sumatera Utara, dilanda banjir sejak Rabu (16/5) malam karena meluapnya Sungai Deli akibat hujan lebat.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Medan Hanna Lore Simanjuntak yang dihubungi di Medan, Kamis, mengatakan, empat kelurahan itu adalah Kelurahan Aur, Kelurahan Sei Mati, Kelurahan Sukaraja, dan Kelurahan Hamdan.
Secara umum, seluruh daerah yang dilintasi Sungai Deli mengalami genangan air karena meluapnya sungai utama di Kota Medan tersebut.
Selain menerima curah hujan yang cukup lebat, luapan tersebut juga diperkirakan terjadi karena Sungai Deli menerima air kiriman dari daerah pegunungan yang juga mengalami curah hujan tinggi.
Namun, daerah yang paling banyak merasakan dampak genangan adalah empat kelurahan yang berada di Kecamatan Medan Maimun tersebut. "Yang paling tinggi genangannya di Kelurahan Aur, yakni sekitar 1,2 meter," katanya.
Meski menggenangi ratusan rumah warga, tetapi BPBD Kota Medan tidak menemukan korban jiwa dalam peristiwa banjir itu. "Sekarang, air sudah berangsur surut," katanya.
BPBD Kota Medan dan aparatur kelurahan setempat telah berupaya memberikan bantuan bagi warga yang mengalami banjir akibat luapan Sungai Deli. "Nasi bungkus juga sudah disiapkan untuk siang ini," katanya ketika dihubungi sekitar pukul 11.30 WIB.
Sementara itu, ruas jalan di sekitar lokasi wisata di Km 35 Desa Sembahe, Kecamatan Pancurbatu, Kabupaten Deli Serdang, mengalami longsor pada Rabu (16/5) malam.
Kasat Lantas Polresta Medan Kompol Risya Mustario yang dihubungi di Medan, Kamis, mengatakan, longsor itu terjadi karena hujan lebat pada Rabu malam. "Namun, sekarang lalu lintas sudah lancar," katanya ketika dihubungi sekitar pukul 11.00 WIB.
Menurut Risya, setelah mengetahui informasi longsor tersebut, pihaknya mengerahkan personel kepolisian, termasuk petugas dari Polsekta Pancurbatu. Pihaknya juga menghubungi instansi terkait untuk mengerahkan alat berat untuk mengevakuasi tanah yang menutup ruas jalan itu.
Namun, proses evakuasi tidak dapat dilakukan karena tidak ada petugas yang mengoperasikan alat berat itu. Kondisi itu menyebabkan arus lalu lintas di kawasan wisata Sembahe, termasuk jalur menuju Berastagi di Kabupaten Karo, mengalami kemacetan. "Kemacetannya cukup padat, tetapi personel kami sudah ada di sana," katanya.
Proses evakuasi baru dilakukan pada Kamis pagi dengan menghilangkan berbagai material yang menutupi ruas jalan itu. "Kini, kendaraan sudah bisa naik ke atas (kawasan Karo dan lain-lain)," katanya.
Bali
Sementara itu, hujan lebat yang turun Selasa (15/5) malam menyebabkan Pondok Pesantren Thariqul Mahfudz di Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, Bali, terendam banjir hingga setinggi satu meter.
Pengasuh Ponpes Thariqul Mahfudz Ahmad Marzuki di Jembrana, Rabu, megatakan, pondoknya memang sering terendam air saat hujan lebat. "Tapi, yang ini paling besar, biasanya tidak sampai masuk ke ruang-ruang pondok," katanya.
Ia mengatakan, enam bangunan ponpes terendam air yang menghanyutkan buku, baju, dan sepatu anak-anak di pondok itu. Akibatnya, anak-anak tidak bisa sekolah. "Beberapa dipan tempat anak-anak tidur dan seperangkat komputer juga terendam air dan rusak," ujar Marzuki.
Air menghanyutkan perlengkapan sekolah anak-anak dan merendam beberapa barang ponpes. Saat arus air membesar memasuki ponpes itu, 40 anak yang tinggal di ponpes sedang tidur lelap. "Para santri tidak sempat menyelamatkan beberapa barang. Saat mereka terbangun, air sudah besar," katanya.
Ia menduga luapan air akibat gorong-gorong di bawah jalan Denpasar-Gilimanuk yang lewat depan ponpes itu terlalu kecil sehingga tidak bisa mengalirkan air hujan secara lancar. Limpahan air juga masuk dari sungai di barat ponpes itu.
Marzuki berharap ada tindakan dari pemerintah sehingga tidak tiap musim hujan ponpesnya terendam banjir. (Ant/Dwi Putro AA)
|
|