| |  | | | | PERDAGANGAN BEBAS China dan Jepang Pangkas Ketergantungan Dolar
Jumat, 1 Juni 2012
BEIJING (Suara Karya): China dan Jepang sepakat menggalakkan penggunaan mata uang negara masing-masing sebagai alat pembayaran dagang yang melibatkan kedua negara. Kesepakatan itu akan dimulai Juni 2012, dan kedua negara bertransaksi langsung dengan uang yen maupun yuan, tidak lagi bergantung kepada penggunaan mata uang dolar AS.
Kerja sama itu akan mulai dirintis pada awal Juni mendatang. Pebisnis Jepang dan China bisa menggunakan yen maupun yuan dalam bertransaksi secara langsung. Menteri Keuangan Jepang, Jun Azumi, mengungkapkan bahwa kerja sama ini akan dimulai di Tokyo dan Shanghai pada 1 Juni 2012.
Dengan demikian, kedua negara tidak akan lagi menggunakan dolar AS sebagai pembayaran dagang bilateral. Ini merupakan terobosan bagi China dan Jepang, dua raksasa ekonomi dari Asia.
"Dengan bertransaksi tanpa menggunakan mata uang dari negara ketiga, maka akan berguna mengurangi biaya transaksi dan menurunkan risiko yang terkait dalam penyelesaian di institusi-institusi keuangan," kata Azumi.
Beijing sudah menyatakan siap atas kesepakatan baru itu. Sistem perdagangan valuta asing China bakal mulai menerapkannya bulan depan.
"Ini merupakan bagian dari strategi yang lebih luas dari China untuk mengurangi ketergantungan kepada dolar AS," kata Dariusz Kowalczyk, pengamat dari Credit Agricole CIB di Hong Kong, seperti yang dikutip BBC.
Menurut dia, dipilihnya yen Jepang karena sudah besarnya volume dagang kedua negara. "Ini bisa menyebabkan ekspansi perdagangan dengan mata uang lainnya," kata Kowalczyk.
Perdagangan ini sudah dipersiapkan jauh-jauh hari. Desember 2011, para pemimpin Jepang dan China sepakat memromosikan perdagangan langsung bilateral dengan melibatkan mata uang masing-masing dan tetap berdasarkan prinsip-prinsip pasar.
Bank Sentral China menilai transaksi langsung menggunakan yen dan yuan ini bisa berguna menurunkan biaya konversi kurs dan membantu memfasilitasi perdagangan dan investasi bilateral.
China, Jepang dan Korea Selatan, awal Mei lalu menyetujui untuk mengadakan negosiasi terkait pakta perjanjian perdagangan bebas tiga arah antara ketiga negara tersebut. Ketiga kegara tersebut menilai dengan kesepakatan tersebut bisa mengangkat kembali kondisi perekonomian global yang sedang memburuk.
Ketiga negara tersebut adalah tiga pemain besar dalam perdagangan dunia. GDP ketiganya jika digabungkan akan mencapai 19,6 persen dari total GDP dunia sedangkan untuk ekspornya mencapai 18,5 persen pada tahun 2020.
Namun, tampaknya implementasi pakta kerja sama ini baru melibatkan Jepang dan China. Tidak dijelaskan mengapa Korea Selatan belum terlibat dalam perdagangan bebas yang menggunakan mata uang negara masing-masing. (AP/Adi)
|
| |
|
|