Senin, 20 Mei 2013
PolitikHukum & KriminalEkonomiBisnisMetropolitanNusantaraOlah RagaInternasionalHiburanOpiniHumor
  
Surat Pembaca 
Liputan Khusus
Wanita
Sehat
Otomotif
Teknotrend
Wisata
Budaya
Griya
Olah Raga
Games
Pentas
Konsultasi
Ayo Bangkit...
Tingkatkan Kualitas Produk Lokal
Benarkah LHI dan AF
Setali Tiga Uang?
Harga Pangan
Tak Kunjung Turun
Kondisi Stasiun
Kian Tertata Apik
WNA Tidak Bayar
Pesangon PHK
Menunggu Kepastian
Harga BBM
Tarif Tol dan
Kondisi Jalan Reguler
Soal Kebanggaan Gunakan
Produk Dalam Negeri
Ekonomi Nasional Meningkat
Sesuai Target Awal
BBM Membuat Rakyat Bingung
Klarifikasi Berita Reklamasi Pantura Jakarta
Lagi-lagi, Sampah!
arsip  
Ayo Bangkit...
Tingkatkan Kualitas Produk Lokal
Benarkah LHI dan AF
Setali Tiga Uang?
Harga Pangan
Tak Kunjung Turun
Kondisi Stasiun
Kian Tertata Apik
WNA Tidak Bayar
Pesangon PHK
Menunggu Kepastian
Harga BBM
arsip  
Rumors
Rumors
Rumors
Rumors
Rumors
Rumors
arsip  
Presensi Wakil Rakyat
Menanti Eksekusi
Terpidana Narkoba
Waduk Pluit Milik Publik
Jerat Pajak
Pemburu Suap
Caleg Pembolos
Silakan Minggir
Budaya Malu
Kegagalan UN
arsip  
 
 
Demo Buruh dan Demokrasi


Sabtu, 2 Juni 2012
Peringatan Hari Buruh Sedunia secara serentak oleh sejumlah elemen masyarakat pada 1 Mei lalu semula diperkirakan akan terjadi anarkisme. Ternyata, May Day tersebut berlangsung damai. Jalan-jalan protokol Ibukota seperti dihiasi oleh para buruh yang tumplek bleg sejumlah kawasan Jakarta.

Memang, peringatan itu tidak hanya di Jakarta, tetapi juga terjadi di beberapa kota lainnya di Indonesia. Dalam aksi itu, ribuan buruh mengusung beberapa isu, seperti upah minimum regional, upah murah, outsourcing, tuntutan hari buruh sebagai libur nasional, dan lain sebagainya.

Kegiatan memperingati hari buruh yang diekspresikan melalui aksi untuk menyampaikan aspirasi demi kepentingan rakyat banyak dalam kehidupan negara demokrasi merupakan suatu yang wajar dan dapat dimaklumi. Yang penting, penyampaian aspirasi tersebut tetap dalam koridor hukum dan demokrasi, dengan memperhatikan etika serta tidak bersifat anarkis.

Sehingga, aspirasi yang disampaikan tidak kontra produktif. Karena, aksi anarkisme justru sangat merugikan, dan akan menodai citra Indonesia serta merendahkan harga diri kita sebagai bangsa yang bermartabat dan demokratis.

Di sisi lain, aksi besar-besaran yang melibatkan ratusan ribu massa tersebut tentunya berpotensi dapat menimbulkan sejumlah kerawanan terhadap tindakan yang bersifat anarkis dan kerusuhan, sehingga patut diwaspadai. Walau waktu itu tidak terjadi aksi-aksi anarkisme, namun hal itu tidak terlepas karena melakukan upaya-upaya antisipatif dan terus meningkatkan kewaspadaan. Karena, berdasarkan pengalaman sebelumnya sejumlah aksi buruh di beberapa daerah tidak jarang berlangsung ricuh, bahkan anarkis. Masyarakat kita masih rentan terprovokasi, ibarat daun kering yang sangat mudah terbakar.

Memang, kondisi ini apabila tidak disadari dan diantisipasi secara dini, dikhawatirkan akan dapat menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan, yang pada gilirannya tidak menutup kemungkinan berpotensi mengancam stabilitas keamanan nasional. Kita mengharapkan agar aksi Hari Buruh Sedunia tersebut bisa menjadi contoh untuk menjaga agar kondisi ttap aman, tertib dan damai, tanpa adanya tindakan yang melanggar hukum. Situasi kondusif ini tentu berkat kesigapan kita bersama untuk mewaspadai kemungkinan adanya upaya-upaya dari pihak-pihak tertentu yang ingin menciptakan instabilitas.

Akhirnya, sebagai warga bangsa, saya berharap agar semua pihak mampu mengendalikan diri dan berpikir jernih untuk lebih mementingkan kepentingan bangsa dan negara dengan mengutamakan persatuan dan kesatuan nasional.

Drs Paiman
Jati Padang, Pasar Minggu
Jakarta Selatan

Politik |  Hukum |  Ekonomi |  Metropolitan |  Nusantara |  Internasional |  Hiburan |  Humor |  Opini |  About Us

Copy Right ©2000 Suara Karya Online
Powered by Hanoman-i