KEAMANAN PAPUA Markas Polisi Ditembaki OTK
Komisaris Besar Boy Rafli Amar, Kepala Bagian Penerangan Umum Mabes Polri
Sabtu, 9 Juni 2012
JAKARTA (Suara Karya): Di tengah perburuan pelaku penembakan di Papua, markas polisi justru diserang sekelompok orang tak dikenal (OTK). Mapolsek Angkaisera, Yapen, Papua, ditembaki sejumlah orang sehingga mengakibatkan seorang anggota polisi menjadi korban luka tembak.
Menurut Kepala Bagian Penerangan Umum Mabes Polri Komisaris Besar Boy Rafli Amar, aksi penyerangan Mapolsek Angkaisera, Yapen, itu dilakukan Jumat (8/6) dini hari.
"Brigadir Polisi Laedi sedang berjaga di depan pos, tiba-tiba diberondong tembakan," kata Boy Rafli Amar di Mabes Polri, Jakarta, Jumat.
Boy menuturkan, akibat tembakan tersebut, Laedi menderita luka tembak di bagian perut dan pinggang. Korban langsung dilarikan ke Rumah Sakit Serui, Papua.
Pelaku penembakan, menurut Boy, diduga berjumlah enam orang. Polisi, lanjut dia, sudah memiliki informasi yang cukup akurat terhadap kelompok pelaku penyerangan di Mapolsek tersebut. "Kita sedang melakukan pemburuan terhadap pelaku penyerangan itu," ujar dia.
Sementara itu, polisi kini tengah memburu orang yang diduga otak dari serangkaian penembakan yang terjadi di Jayapura, Papua, yang berinisial IN.
Kepala Badan Reserse Kriminal Polri Komisaris Jenderal Sutarman menuturkan, dari dua tersangka terdahulu yang ditangkap, polisi mengarahkan IN sebagai otak pelaku aksi-aksi penembakan. Polisi juga terus mendalami motif dari penembakan-penembakan tersebut.
"Kami sedang mengarahkan penangkapan IN, dari analisis ini terkait pelaku penembakan-penembakan di Jayapura," kata Sutarman di Mabes Polri, Jakarta, Jumat.
Sutarman menjelaskan, penangkapan dua orang pelaku itu memang terkait aksi penembakan warga negara Jerman. Penangkapan itu sendiri dilakukan pada Kamis (7/6) pukul 15.00 WIT. Dari pemeriksaan dua orang ini, polisi menemukan senjata tajam.
Namun, Sutarman belum bisa memastikan motif pelaku melakukan penembakan di sejumlah tempat di Jayapura karena belum berhasil menangkap pelaku utamanya.
"Kita baru menangkap dua orang, dan itu bukan pelaku utamanya. Mungkin kalau pelaku utama tertangkap, kita bisa mengungkap seluruhnya, dan bisa melihat secara dalam motif penembakan-penembakan itu," ujar Sutarman.
Dua orang yang ditangkap dan ditahan polisi itu adalah Buchtar Tabuni dan Jefri Wandepbud. Keduanya adalah pimpinan Komite Nasional Papua Barat (KNPB). Namun, Sutarman belum bisa memastikan apakah penangkapan tersebut terkait dengan kegiatan organisasi tersebut.
"Kita belum bisa mengkaitkannya. Tetapi, nanti kita coba dalami keterkaitan seluruh kejadian yang ada, karena ada yang bermain di Jayapura," ucap dia.
Lebih jauh Boy memaparkan, keduanya ditangkap karena selama ini yang bersangkutan sulit dihadapkan ke jaksa penuntut umum (JPU) dalam kasus perusakan di Lapas Papua pada 2012, sedangkan berkasnya sudah P21.
"Tersangka diduga terlibat aksi perusakan toko, fasilitas umum, pusat pertokoan di Waina, Sentani dan Abepura, termasuk di kampus Universitas Cendrawasih," tutur Boy. Sebelumnya, Wakapolda menyebut pimpinan KNPB itu diduga sebagai pihak yang menggerakkan dan mengajak serta mengatur aksi-aksi demo di Jayapura.
Meski ada penyerangan, polisi menyebut kondisi Papua secara umum aman dan kondusif. Karena itu, belum ada tambahan pasukan di Papua. Mabes Polri juga sudah mempertemukan pimpinan di jajaran polres, Dandim, dan kepala daerah.
Menanggapi berbagai peristiwa di Papua, anggota DPR dari Papua, yang tergabung dalam Kaukus Parlemen Papua, mendesak pemerintah segera melakukan dialog dengan masyarakat Papua. Anggota Kaukus Parlemen dari Fraksi Partai Golkar, Agustina Basik, mendorong dialog melalui pembentukan Panja atau Panitia Kerja DPR.
Namun, Basik meminta agar keberadaan Panja itu tidak tumpang tindih dengan Tim Pengawas Otonomi Khusus (Otsus) Aceh dan Papua.
Selain dialog, Basik juga mendesak agar dana Otsus harus jelas aliran dan penggunaannya. "Dana Otsus itu ratusan triliun, tetapi ke mana mengalirnya tidak jelas, seperti dimakan siluman," kata dia mengingatkan pemerintah pusat jangan mau dibohongi pemerintah daerah. (Hanif S/Rully)
|
|