PENUTUPAN MTQ AMBON Membumikan Damai di Tanah Seribu Pulau
Senin, 18 Juni 2012
"Pertama yang wajib saya sampaikan adalah, ucapan terima kasih dan penghargaan yang tinggi kepada saudara-saudara kami, para tokoh dan umat Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Konghucu, yang turut serta bahu-membahu dan bergotong-royong menyukseskan penyelenggaraan MTQ ini."
Demikian pidato Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Maluku H Idris E Toekan sebelum membaca doa pada penutupan Musbaqah Tilawatil Quran Nasional (MTQN) XXIV, di Lapangan Merdeka, Kota Ambon, akhir pekan lalu.
Para pemuka agama, seperti Ketua Sinode Gereja Protestan Maluku Pendeta Dr John Ruhulessi, Pastur Yonas Atjas dari Keuskupan Maluku, pengurus Parisada Hindu Dharma, perwakilan Walubi, dan Matakin, yang duduk di barisan belakang Wapres Boediono dan Menag Suryadharma Ali, tertunduk haru.
"Semangat Pela Gandong telah menyatukan kita dalam persaudaraan tulus yang penuh cinta kasih. Sekali lagi, terima kasih saudaraku. Kita telah menunjukkan pada dunia sebagai bangsa yang toleran, rukun dan harmonis," ujar ulama bersahaja dan karismatik ini dengan mata berkaca-kaca. Doa yang dilantunkan bagai puisi dalam bahasa Indonesia dan Arab pun membuat suasana larut dalam hening nan hikmat.
Betapa tidak, inilah hajatan keagamaan yang sukses melibatkan peran umat lintas agama. Komunitas Nasrani menyediakan tempat tinggal bagi 5.000 kafilah dari 33 provinsi di Indonesia yang tak tertampung di hotel dan penginapan. Bahkan, Gedung Universitas Kristen Ambon menjadi salah satu tempat MTQ.
"Peristiwa ini direkam dunia sebagai momen menakjubkan yang patut dicontoh. Ini bisa kita jadikan model untuk diterapkan di daerah-daerah lain yang pernah dilanda konflik," kata Menag.
Karena itu, Kementerian Agama tak ragu-ragu menggelontorkan bantuan dana pembangunan mesjid, gereja, dan rumah ibadah lain di Kota Ambon sebesar Rp 1,4 miliar lebih. "Ada beberapa rumah ibadah yang belum selesai dibangun, sehingga perlu dibantu," ujar Menag dalam acara Makan Patita sebagai acara syukuran atas sukses MTQ, di Pantai Tantui, Ambon, Jumat (15/6).
Donasi masing-masing Rp 100 juta per rumah ibadah yang diberikan langsung oleh Menag Suryadharma Ali, diterima para tokoh Islam, Kristen, Katolik, dan agama lainnya di Kota Ambon.
Selain menyerahkan dana, Menag juga menyampaikan apresiasi kepada Gubernur Maluku Karel A Ralahalu, Wagub Said Assagaff dan jajarannya, yang berhasil menyelenggarakan MTQ. "Presiden SBY juga memuji keberhasilan pelaksanaan MTQ yang aman dan damai," ujarnya.
Pada MTQ kali ini, kafilah DKI Jakarta merebut juara umum. Disusul Provinsi Banten di peringkat kedua, dan Provinsi Kepulauan Riau urutan ketiga. Seperti diumumkan Ketua Dewan Hakim MTQN XXIV Prof Said Agil Husin Al-Munawar, posisi keempat hingga sepuluh diraih Provinsi Jabar, Sumbar, NTB, Jatim, Riau, Kalsel, dan Maluku.
Di tempat yang sama, Sekjen Kemenag Bahrul Hayat, mengatakan, MTQ menjadi momentum yang memperkokoh persaudaraan antarumat beragama di Maluku.
"Ungkapan 'Ambon Manise' sangat mewarnai penyelenggaraan MTQ. MTQ menjadi perekat kerukunan di daerah ini," ujarnya. Berangkat dari sukses MTQ Nasional di Ambon, tutur Bahrul Hayat, Kemenag juga akan menggelar hajatan besar keagamaan di Sulawesi Tenggara (Sultra) pada Juli mendatang. "Kita akan gelar Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) Nasional di Kendari, pada 3-11 Juli 2012," ucapnya.
Terkait sosialisasi toleransi, Bahrul Hayat, mengatakan, Kemenag akan mengundang pihak internasional dan Uni Eropa pada Agustus mendatang. Ini agar mereka dapat memantau langsung kerukunan beragama di Indonesia. Hal ini juga untuk membantah kabar dan penilaian sepihak yang mengatakan bahwa toleransi beragama RI buruk.
"Ada sekitar 15 delegasi yang akan datang dan diterima Kementerian Agama. Kita tunjukkan dengan aksi, dan apa yang terjadi di Ambon, Maluku, ini, adalah bukti nyata tentang kerukunan umat beragama. Ini bisa kita jadikan teladan dan model," ujar Bahrul Hayat.
Merespons keberhasilan even akbar itu, Gubernur Maluku Karel Albert Ralahalu mengungkapkan rasa syukurnya. Dalam sambutan saat penutupan MTQ, dengan penuh ketulusan ia menyatakan tekad menjadikan "momen emas" dan semangat perdamaian yang terungkap dalam MTQ sebagai pemacu percepatan pembangunan Maluku.
"Bila terantuk kenangan buruk, tulislah di Pantai Ambon, agar angin dan debur ombak bersatu menghapuskannya. Kalau terkesan memori indah, bawalah pulang ke rumah, bagai harum aroma rempah," kata Karel mengutip pepatah setempat: sebait nasihat yang membuat hadirin semakin larut dalam hening. Dan tafakur Sang Gubernur, membuat "air mata damai" tumpah di Tanah Seribu Pulau. (Yudhiarma)
|
|