Kamis, 20 Juni 2013
PolitikHukum & KriminalEkonomiBisnisMetropolitanNusantaraOlah RagaInternasionalHiburanOpiniHumor
  
Cerpen 
Liputan Khusus
Wanita
Sehat
Otomotif
Teknotrend
Wisata
Budaya
Griya
Olah Raga
Games
Pentas
Konsultasi
Duka Mbak Titi
Oleh Nadjib Kartapati Z
Pertemuan Kelam
Oleh Korrie Layun Rampan
Prahara
Oleh Andi Dasmawati
Rahasia Pengantin
Oleh Ente Duhita
Percakapan Mata
Oleh Faisal Syahreza
E M A K
Oleh Asep Yayat
Langgam Keroncong Dini Hari
Oleh Werda Filsani
Setangkai Mawar Putih
Oleh Evi Melyati
Senja di Tepi Sawah
Oleh Maria D. Andriana
Wawancara
Oleh: Beni Setia
E M A K
Oleh Siti Noor Aminah
Di Ujung Lorong Buntu
Oleh Sunaryono Basuki Ks
arsip  
Puisi-Puisi
Remmy Novaris DM
Puisi Puisi
Ulfatin Ch
Sajak-sajak
Isbedi Stiawan ZS
Puisi-Puisi
Herwin Malang Roa
Puisi-Puisi
Y Alpriyanti
Puisi Puisi
Ratna Ayu Budhiarti
arsip  
Duka Mbak Titi
Oleh Nadjib Kartapati Z
Pertemuan Kelam
Oleh Korrie Layun Rampan
Prahara
Oleh Andi Dasmawati
Rahasia Pengantin
Oleh Ente Duhita
Percakapan Mata
Oleh Faisal Syahreza
E M A K
Oleh Asep Yayat
arsip  
Budaya Sepekan
Gedung Kesenian Jakarta (GKJ
Budaya Sepekan
Budaya Sepekan
Gedung Kesenian Jakarta (KGJ)
arsip  
 
 
Di Batas Petualangan
Oleh Chaerul Abshar


Sabtu, 30 Juni 2012
Hulu Kapuas, tepat 10 tahun lalu. Dayan masih bisa mengingat bagian dari petualangan panjangnya di masa mahasiswa. Agak sedikit nekad, hanya bertiga, mereka ingin melintasi Pulau Kalimantan dari Barat ke Timur. Dari Pontianak ke Samarinda. Menyusuri Sungai Kapuas, menyeberangi Pegunungan Muller, dan turun kembali menyusuri Sungai Mahakam.

Darin, motoris perahu motor, memperbaiki baling-baling yang patah akibat tersentah batu besar di sungai, sehari sebelumnya. Dalam keadaan darurat, dia cukup menggantikan dengan paku yang selalu dibawanya sebagai persiapan. Motor kembali dihidupkannya. Perahu pun meluncur, meraung melewati jeram dengan arus yang seakan tumpah dari depan. Dayung Bung. Dayung, bantu dengan dayung. Air terus membuncah. Tanpa motoris yang andal, Dayan merasa, mereka pasti akan terkubur, terhisap arus yang begitu deras di hulu Kapuas.

Perjalanan menempuh jeram yang ganas, seharusnya tidak dilalui dengan malam yang memabukkan. Bah, seandainya kontrol diri tak kuat, ekspedisi lintas kalimantan ini bisa terhambat. Dayan ingat, malam harinya mereka dilepas dengan sebuah pesta.Minuman keras diedarkan. Sebagai tamu, mereka tak bisa menolak. Tiga gadis penari, dan sebelum menari secangkir kecil minuman keras harus ditelan. Terus. Sambil menari, semampai, minum lagi. Bah, laki-laki mana yang tidak tertohok kejantanannya kalau diajak minum oleh gadis-gadis yang nampak sangat cantik. Slup. Cangkir demi cangkir.

Tapi Dayan adalah komandan tim. Petualangan panjangnya, dari rimba Sumatera hingga gunung es di Papua, mengajarkan banyak hal. Secara kultural tak banyak yang dipahaminya tentang pola seksual di pedalaman rimba tropis Kalimantan. Ia mendengar dari para pedagang yang membawa kelontong dan kebutuhan pokok bahwa gadis-gadis di sana bisa diajak berhubungan seks jika suka sama suka, kecuali, jika gadis itu perawan.

Bah, mana pula kita bisa tahu gadis itu perawan atau tidak? Padahal, salah sasaran, tertiduri pula gadis yang belum berbuka bulin, sama artinya dengan suatu pernikahan. Atau, jika ingin berkilah, bayarlah denda sebuah tawak atau sebuah gong besar. Dan Dayan, sebagai komandan, sadar dari mana bisa memperoleh gong gamelan in the midle of nowhere ini.

Dan ia berusaha untuk tetap sadar. Berlagak sibuk memotret, sementara kedua temannya, Galih dan Sapto, asyik menari bersama bersama beberapa pedagang kelontong dari kota kabupaten. Jika memungkinkan, ia selalu membuang minuman keras yang ada di gelasnya. Kamput, kambing putih. Betapa kerasnya. Kontrol dirimu, Bung. Sementara malam larut dengan cepat.

Bisikan halus itu terdengar di telinganya. Gadis itu yang paling manis. Tubuhnya halus. Terasa lembut. Bah. "Mau dipijit, Bang?" desahnya lunak. Ampun. Matanya begitu tulus. Begitu sayu. Dadanya yang mirip bukit kecil berdegup. Kulitnya mengingatkan Dayan pada salah satu mantan pacarnya yang bernama Karenina. Ia tahu, inilah batas petualangan yang sangat mendebarkan.

Tapi bagaimana mungkin? Ayah gadis itulah yang akan menjadi motoris perahu esok. Ia hadir di pesta itu. Acuh tak acuh. Rasanya tak ada yang peduli. Namun Dayan ingat terus dengan gamelan itu. Ia ingat sekali. Lintasan ekspedisi tak boleh berhenti. Etos seorang petualang adalah mencapai objek yang telah dipatok. Boleh bergeser tapi tak beralih dari sasaran akhir.

Dan perahu terus meraung melewati jeram yang membuncah. Kadang perahu harus ditarik, didorong, diangkut untuk melewati jeram yang penuh bebatuan. Dan kaki kaki gerimis yang panjang berlarian, melahirkan nuansa tualang, mirip perjalanan ke puncak orgasme. Dan Dayan kembali terkenang gadis itu. Ia ingat sepasang matanya. Ia menangkap semburat kesedihan di sana. Sepasang mata yang seolah tak berdaya, seolah tak cukup punya arti. Bah, demikian pentingnyalah kebersamaan itu baginya. Ia tak bisa melupakan rasa sedih di mata gadis itu. Namun, Dayan demikian merindukan suksesnya lintasan ekspedisi ini. Dan malam itu ia tak melakukan apa-apa. Membimbing pulang kedua temannya yang setengah mabuk. Hanya, ia tak akan lupa, sepasang mata yang sayu itu seakan becerita banyak tentang harapan harapannya.

Perahu menepi di sebuah ladang di pinggir Sungai. Panen tiba dan para pedagang sibuk di ladangnya. Ibu-ibu berdada telanjang nampak gagah, kuat, dan sehat. Mereka diramaikan oleh bocah-bocah, lelaki dan perempuan, serta anjing anjing pemburu yang tak henti menyalak. "Menginap saja di ladang Demang," kata seorang bapak di tepi sungai. "Dangaunya besar bagi kalian."

Dan petualangan panjang akan segera usai. Dayan masih mampu mengingatnya. Ia selalu mengenangnya. Sepasang mata menyimpan magma yang terpendam.

Demang adalah seseorang yang telah lanjut usia. Tubuhnya masih menyiratkan kegagahannya di masa lalu. Namun, satu hal yang tak bisa ditolaknya, ia telah tua. Petualangannya di rimba raya yang keras telah menyurutkan kedigjayaannya. Bara api di matanya tak lagi mencorong seperti ia di masa muda. Dayan dapat meraba, betapa perkasanya Demang di masa masa sebelumnya.

Ia masih bisa bercerita tentang pasukan kita di perbatasan, saat-saat konfrontasi masih bergolak. Ia adalah pemandu yang tangguh, yang hapal setia kelok dan riam di huku Kapuas dan Mahakam. Dan Dayan tak ragu akan ketangguhannya di masa muda. Ia dapat menyaksikan keperkasaannya itu dari Limas, istrinya yang terakhir.

Limas, istri Demang, terpaut entah berapa puluh tahun usianya. Dayan bisa melihat bias bias kecantikan di wajahnya yang redup. "Ada bawa obat, Bang? Kepala saya sering pusing," katanya kepada tamunya. Dayan membawa persediaan obat sakit kepala, dan menyerahkan beberapa butir kepada Nyonya Demang.

Malam itu mereka bergolek sambil bergurau. "Kau tahu apa yang menyebabkan Limas pusing?" tanya Sapto sambil tertawa. "Aku tahu," sambut Galih, cepat, "Demang ketuaan buat Limas. Mungkin ia kelamaan dibiarkan kesepian di ranjangnya. Makanya sering pusing."

Bullshit. Anak anak ini memang bermulut kotor. Pintar berteori tapi tak berani menguliti tubuh seorang wanita. Dayan pun tersenyum. Inilah usia muda di mana petualangan menjadi sangat menggairahkan.

Mereka berhenti beberapa hari di rumah ladang Demang, melakukan observasi kehidupan peladang di pedalaman Kalimantan. Dayan ingat, ia mencatat bagaimana secara tak sadar peladang ini akrab dengan lingkungan alam. Mereka membuka hutan, menjaganya dari hewan liar, memanennya, dan kemudian meninggalkannya sehingga ladang menghutan kembali, dan berarti pulih pula kesuburannya. Mereka melakukan rotasi perladangan sedemikian rupa, sehingga boleh dibilang tak sempat meninggalkan padang alang alang, seperti yang umum terlihat di bagian hilir yang lebih rakus membuka hutan.

Dan Limas memasakkan nasi dari padi ladang yang harum. Kadang kadang ketiga anak muda yang bandel itu tak lupa mengintip sebagian dada Limas yang tersembul. Tubuhnya berisi dan sintal. Mungkin karena ia terbiasa hidup di alam yang seger, jernih dan tentu saja bebas polusi. Potongan tubuhnya melahirkan kesan sensual. Terlebih di mata anak laki-laki yang sudah satu bulan di dalam perjalanan tualang.

Yang membuat Dayan merasa ada yang tak beres, Limas selalu mengeluh sakit kepala. Dalam tidur malam, imaji yang bermacam pun bermunculan. Wajah Limas, meski ia sangat ramah, tak pernah bisa betul-betul lepas ceria. Tubuhnya yang segar bagai disaput mendung berkepanjangan. Dan Dayan membayangkan Deman yang tua, dan malam-malam yang sepi. Kepala yang pusing. Oh my God.

Belum terang tanah ketika Dayan menyadari celananya basah. Bullshit, ia tersenyum sendiri menyadari kekonyolannya. Perkara ini bisa besar jika kedua temannya tahu. Dayan segera ke belakang, cuci muka, supaya tidak jadi bahan ledekan kedua temannya.

Saat itulah ia terpukau. Fajar belum sepenuhnya muncul ketika ia merasa sedang mandi. Jakunnya turun naik. Dan ia bergerak demikian hati-hati mendekat. Slow motion. Tak lagi sempat berpikir. Tubuh itu begitu sintal, tikungannya begitu tajam. Ia menelan ludahnya.

Limas selesai mandi dan melangkah ke tepian, siap berpakaian. Dan, entah didorong oleh siapa, Dayan telah melangkah mendekat. Limas belum sepenuhnya siap berpakaian. ia hampir menjerit. Namun tersekat di kerongkongannya. Sementara Dayan juga tak mampu berkata apa-apa. Namun, ketegangan itu cair ketika Limas tersenyum. Tuhan, wajahnya bercahaya, memancarkan sinar yang tak pernah Dayan lihat sebelumnya. Dan ia mengulurkan tangannya. Makin dekat. Dan berakhir di pelukan Dayan. Begitu sintal, begitu hangat. Dayan tak tahu lagi apa yang terjadi. Ia tak ianagat pada tawak, pada ekspedisi yang sedang dilakoninya. Ia terbang begitu tinggi.

Sepuluh tahun telah berlalu. Dayan tak akan pernah lupa, dan kini bahkan hal itu menjadi sangat relevan bagi denyut di jantungnya. Serikat pemburu tua, mungkin tak lagi cukup kuat bertualang di gunung dan hutan. Namun, petualang tak akan pernah selesai. Selalu saja ada pasal yang melahirkannya.

Ia ketemu Sasthi di lapangan golf. Dan kembali ia teringat pada Limas. Pada suatu ekstase, suatu saat ketika ia merasakan belitan atau sengatan listrik yang entah berapa puluh ribu volt. Begitu mengguncangkan namun tak pernah cukupuntuk membuat mati.

"Kali ini jangan cari perkara," kata Sapto, "Ingat, dalam undangan perkawinanmu, kau telah mengatakan: mengganti sepatu boot yang penuh lumpur dengan sandal rumah yang jinak. Kau jangan lagi cari perkara. Ingat, kau sudah beristri dan punya anak."

Dayan tersenyum. Tak ada yang salah dengan istri dan anaknya. Ia sangat mencintai mereka. Istrinya adalah buah hati dan pendorong semangatnya. Perannya tak kecil hingga ia bisa menikmati sekian fasilitas dari kantor. Termasuk melakukan lobi bisnis dengan bermain golf, olahraga yang satu dekade sebelumnya tak terpikirkan untuk ia mainkan.

Di lapangan golf ia kemudian kenalan dengan Sasthi. Tubuhnya, kesintalannya, dan semburat keletihan di wajahnya. Bah, ia teringat Limas. Bagaimana mereka kemudian terburu-buru melanjutkan petualangannya. Meninggalkan Demang dan Limas yang melepas mereka dengan senyum tipis namun sarat dengan misteri kehidupan. Sungguh, Dayan takut apa yang terjadi pagi itu akan diketahui Demang. Dan ia segera pergi. Bah, betapa piciknya. Sementara bara itu tetap ikut bersamanya, terus, dan nampaknya tak pernah padam sepenuhnya.

"Kali ini jangan macam-macam," kembali Sapto mengingatkan, "Kau tahu siapa suaminya?" Dengan malas Dayan mengangguk. Suaminya adalah tokoh yang vokal dan sering muncul sebagai berita di media massa. Mereka terpaut usia yang jauh berbeda. Sehingga beberapa media cetak sangat senang menggunjingkannya.

Dan wajahnya kembali mengingatkan Dayan pada Limas. Hanya Sasthi jauh lebih terbuka.Lebih modern dan lebih sophisticated. "Kita bisa ngobrol-ngobrol di cafe," ia menyebutkan sebuah cafe yang temaram di salah satu hotel terkemuka di Jakarta. "Tempatnya enak dan santai," kata-katanya begitu renyah.

Lalu mereka ceruta tentang banyak hal. Dayan menatap wajah nyonya muda itu lekat-lekat, ingin tahu apa yang ada di balik semua ini. Dan ia kembali teringat pada Limas. pada bara hangat yang membuatnya menggelegak dan tak ingat apa-apa. "Kita bisa ketemu di Singapura, kita bisa cerita banyak hal," tiba-tiba Sasthi berkata sumringah. Dan Dayan tiba-tiba ingin mengisap rokok. Sudah lama ini tak dilakukannya. Bayang bayang itu seakan utuh kembali. Slow motion.

Dan ia merasa dadanya berdebar dengan cepat saat ia melangkah di belalai gajah Bandara Soekarno Hatta. Betapa gemuruh rasanya. ia telah memutuskan terbang ke Singapura. ia ingin bertemu Limas. ***

Politik |  Hukum |  Ekonomi |  Metropolitan |  Nusantara |  Internasional |  Hiburan |  Humor |  Opini |  About Us

Copy Right ©2000 Suara Karya Online
Powered by Hanoman-i