Selasa, 21 Mei 2013
PolitikHukum & KriminalEkonomiBisnisMetropolitanNusantaraOlah RagaInternasionalHiburanOpiniHumor
  
Nusantara 
Liputan Khusus
Wanita
Sehat
Otomotif
Teknotrend
Wisata
Budaya
Griya
Olah Raga
Games
Pentas
Konsultasi
JALUR NARKOBA
BNN Amati Seluruh
Penerbangan dari Malaysia
SARANA TRANSPORTASI
7 Gerbong KA Tawang Jaya
Terlepas di Tengah Perjalanan
PERINGATAN SEKDA NTT
PNS Jangan Jajan PSK
KILAS METROPOLITAN & NUSANTARA
Indramayu Gelorakan Cinta Bangsa
PEKANBARU
Kapolresta Tolak Bebaskan Anggota Geng Motor
Deposito Zona Euro Negatif,
IHSG Bisa Lebihi 5.200
Oleh: Indra Prasetya
PERGURUAN TINGGI
UNS Kirim Dua Mobil
ke Kompetisi SEM Asia 2013
YOGYAKARTA
Sukarelawan Tanggap Bencana
Harus Selalu Siap
PILKADA JATIM
Pasangan Karsa Optimistis Raih Kemenangan
KABUPATEN CIREBON
Pejabat Jangan Kesandung Masalah Hukum
KOTA SORONG
Maksimalkan Dana Otsus
Untuk Pembangunan
BINA PKL
Jokowi Akan Buat
Pasar Malam di Jakarta
arsip  
 
 
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
Masalah Sosial Lebih Cepat
Berkurang berkat Kepedulian Masyarakat


Senin, 6 Agustus 2012
SOLO (Suara Karya): Kepedulian terhadap sesama menjadi aset dan karakter bangsa yang sangat penting. Dengan kepedulian, maka tidak akan mudah terprovokasi dan masalah sosial pasti akan berkurang. Sikap peduli tersebut harus dipertahankan dan ditingkatkan. Jika tidak, masalah sosial dan bencana sosial pasti akan terjadi.

Kalau di setiap kota di Indonesia muncul gerakan kota peduli, maka semua masalah sosial pasti akan teratasi. Seperti yang diharapkan Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufri saat meresmikan gedung baru rumah bersalin gratis Solopeduli dan peluncuran Program Solo Cinta Yatim di Solo, Jawa Tengah, Jumat (3/8).

"Keributan karena orang lebih mementingkan kelompok atau sukunya sendiri. Semua itu pasti akan berkurang jika ada kepedulian," kata Mensos dalam sambutannya.

Apalagi masih banyak masalah sosial yang terjadi di Indonesia saat ini. Misalnya kemiskinan, anak telantar, warga lanjut usia telantar, serta penyandang cacat telantar. Dari total jumlah penduduk Indonesia, 11,19 persen atau 30 juta penduduknya masuk kategori miskin.

Sebanyak 2,8 juta di antaranya merupakan warga lanjut usia telantar. Pemerintah baru bisa menangani sekitar 40 ribu hingga 50 ribu di antaranya. Sedangkan dari 163 ribu penyandang cacat berat, pemerintah baru bisa memberikan jaminan sosial kepada 20 ribu di antaranya.

"Untuk itu, dibutuhkan peran serta dari masyarakat untuk peduli sehingga masalah sosial di Indonesia bisa ditangani bersama," ujarnya.

Kepedulian masyarakat antara lain telah diperlihatkan masyarakat di Kota Solo, Jawa Tengah, melalui kegiatan Solopeduli dengan membangun rumah bersalin gratis. Keberadaan rumah bersalin gratis itu menjadi solusi bagi masyarakat miskin.

"Klinik bersalin gratis ini telah berdiri sejak tahun 2007 melalui sumbangan para donatur yang saat itu berjumlah 773 orang. Tetapi, saat ini klinik bersalin gratis ini terus berkembang dengan makin banyaknya donatur yang mencapai 36.485 orang," kata Direktur Pelaksana Solopeduli, Supomo.

Keberadaan klinik bersalin itu tidak hanya untuk membantu ibu-ibu yang akan melahirkan, tetapi juga dilengkapi dengan penyuluhan kesehatan, peningkatan gizi anak, KB, serta periksa umum. Hingga tahun 2012 ini akumulasi jumlah pasien yang telah dibantu di klinik bersalin gratis mencapai 13.527 orang.

Rumah bersalin gratis itu ditangani oleh tenaga profesional dengan 1 orang dokter spesialis kandungan, 1 dokter umum, 1 apoteker, 1 fisioterapis, 7 bidan, dan dipimpin satu orang manajer serta beberapa sukarelawan medis.

Sementara itu, Herbayu Ragil K dari tim media Solopeduli mengatakan, sejak berdiri tahun 1999, Solopeduli berkomitmen menghadirkan program-program sosial yang inovatif dan solutif untuk masyarakat duafa. Filosofinya ialah menghadirkan layanan gratis dan paripurna untuk masyarakat duafa-sejak mereka belum lahir, hingga mereka meninggal dunia.

Solopeduli menghadirkan serangkaian program sosial kemanusiaan. Mulai dari rumah bersalin gratis, pesantren gratis (SD dan SMP), SMK Gratis Smart Informatika, LPK gratis, hingga pelayanan ambulans gratis.

Tentang program Solo Cinta Yatim, Herbayu menyebutkan bahwa lahirnya program itu berdasarkan pada fakta masih banyak anak-anak yatim di luar panti yang belum mendapat perhatian dari masyarakat maupun pemerintah serta lembaga-lembaga sosial. Mayoritas elemen masyarakat memilih menyalurkan bantuan ke panti-panti yatim. Sementara anak yatim di luar panti tidak tersentuh. Berawal dari permasalahan itulah, program Solo Cinta Yatim hadir sebagai solusi.

Menteri Sosial menyambut positif program seperti itu. Pemerintah daerah diharapkan ikut berperan mendukung seoptimal mungkin program seperti itu. "Keberhasilan seperti ini pasti juga didukung oleh pemerintah daerah setempat. Sebab, keberhasilan suatu daerah akan bagus jika bisa membangun link dan network," ujar Mensos lagi.

Dalam kesempatan itu, Mensos juga memberikan bantuan dana Rp 30 juta untuk tambahan gizi balita. (Endang Kusumastuti/Dwi Putro AA)

Politik |  Hukum |  Ekonomi |  Metropolitan |  Nusantara |  Internasional |  Hiburan |  Humor |  Opini |  About Us

Copy Right ©2000 Suara Karya Online
Powered by Hanoman-i