Olimpiade dan Toleransi Rohmad Hadiwijoyo Dalang dan CEO RMI Group, anggota kontingen Indonesia di Olimpiade 2012 London
Jumat, 10 Agustus 2012
Olimpiade 2012 yang digelar di London, Inggris, bertepatan dengan bulan Ramadhan. Sebanyak 10.500 atlet dari 240 negara, termasuk 3.500 atlet muslim, ikut ambil bagian. Bagi atlet muslim, jelas ini merupakan perjuangan yang tidak ringan, bertanding sambil tetap berpuasa di tengah summer (musim panas). Imsak pukul 03.10, sementara magrib sekitar pukul 20.52. Itu artinya, seorang atlet muslim harus berpuasa selama 17 jam di tengah panas terik!
Tapi, Islam adalah agama yang toleran terhadap situasi yang dihadapi umatnya. Dewan fatwa di negara muslim, seperti Malaysia dan Mesir, membebaskan atlet mereka untuk tetap berpuasa atau tidak saat berpartisipasi di ajang olahraga seperti Olimpiade. Toleransi itu dimanfaatkan oleh sejumlah atlet untuk berfokus ke pertandingan. Di antaranya Mohammed Ahmed, pelari asal Somalia yang membela Kanada. Dia memutuskan untuk meng-qadha puasanya nanti di luar Ramadhan. Hal serupa dilakukan sejumlah atlet dari Mesir, Uni Emirat Arab, dan negara-negara muslim lainnya.
Tapi, tidak demikian halnya dengan pelari 400 meter putri andalan Somalia, Zamzam Mohamed Farah. Di tengah latihan berat dan ketatnya pertandingan, dia tetap menjalankan ibadah puasa. Begitu juga atlet sepak bola putra Maroko.
Olimpiade London mengedepankan toleransi tinggi dalam melayani para atlet muslim. Selama perhelatan berlangsung, mereka menyiapkan kafetaria 24 jam nonstop di berbagai lokasi, dengan sajian menu halal termasuk kurma. Dengan begitu, atlet bisa makan pada pukul sembilan malam untuk berbuka dan pukul tiga dini hari untuk sahur. Mushala dan tempat ibadah agama lain dibangun di kampung atlet dan Olympic Park, lengkap dengan buku panduan doa.
Ketegangan sempat muncul menyusul perdebatan boleh tidaknya atlet judo asal Arab Saudi, Wojdan Ali Seraj Abdulrahim Shaherkani, mengenakan hijab atau jilbab saat bertanding. Perdebatan itu memanas ketika Shaherkani mengancam mundur jika dilarang mengenakan hijab. Semangat toleransi akhirnya menang. Shaherkani tetap bisa bertanding dengan rambut tertutup hijab.
Olimpiade kali ini memang istimewa. Untuk pertama kalinya, negara muslim seperti Arab Saudi, Brunei, dan Qatar mengirimkan atlet perempuan. Hal ini adalah kemajuan besar karena selama ini pemerintah negara-negara itu memberlakukan aturan ketat terhadap partisipasi wanita di depan umum, termasuk olahraga.
Maka, di berbagai arena Olimpiade kali ini, kita bisa menyaksikan para atlet muslimah beraksi dengan hijab mereka. Di lintasan atletik, ada pelari sprint asal Qatar, Noor Hussain Al-Maliki, Shinoona Salah Al-Habsi dari Oman, dan atlet lain dari Afganistan dan Yaman. Di tengah summer yang terik, mereka mengenakan pakaian tertutup yang hanya memperlihatkan wajah dan telapak kaki.
Olimpiade London adalah tontonan konkret betapa indahnya toleransi. Ke depan kita akan menyaksikan Olimpiade dengan makin banyaknya atlet muslimah berlaga. Kendati prestasi atlet kita tahun ini belum sesuai harapan, saya meninggalkan London dengan hati berbunga-bunga merayakan kemenangan toleransi. London sudah memberi contoh bagaimana memperlakukan keberagaman secara bermartabat. Bagaimana di sini? ***
|
|