Terima Kasih London Oleh: Gungde Ariwangsa*
Senin, 13 Agustus 2012
Olimpiade XXX tahun 2012, yang berlangsung sejak 27 Juli-12 Agustus 2012, di London, Inggris, berakhir sudah. Lewat pesta penutupan yang spektakuler di Stadion Olimpiade London, Minggu malam atau Senin (13/8) WIB, resmi sudah pesta akbar dunia itu ditutup. Kini semua insan olahraga mulai mengarahkan sasaran ke Kota Rio de Janeiro, Brasil, yang akan menjadi tuan rumah Olimpide XXXI tahun 2016.
Meskipun pikiran, pandangan, dan bahkan langkah mulai menuju Rio de Janeiro, namun London susah untuk dilupakan, baik bagi peserta yang sukses maupun gagal dalam memenuhi target meraih medali atau memenangi pertandingan dan lomba. Para penggembira juga pasti tidak akan bisa melupakan London sebagai tempat jalan-jalan, belanja, dan bahkan bulan madu selama Olimpiade berlangsung.
Pokoknya London sudah memberikan yang terbaik. Setelah melewati langkah awal yang agak gugup, London mulai memukau dunia lewat upacara pembukaan yang luar biasa. Keraguan tentang kesiapan Inggris sebagai tuan rumah pun mulai mereda dan luntur. Stadion megah, pertandingan yang berjalan lancar dengan dimbangi pertunjukan musik memberikan nilai plus buat Inggris yang sudah tiga kali dipercaya menjadi tuan rumah Olimpiade.
Yang lebih mengagumkan lagi, karena ini bukan hanya memberi dampak pada perkembangan olahraga sebagai industri, melainkan juga pariwisata dan kepercayaan dunia internasional, arena pertandingan tidak pernah sepi pengunjung. Diperkirakan lebih dari dua juta turis hadir dan menambah sibuk London. Tentu ini merupakan modal untuk menunjukkan Inggris tidak terpengaruh resesi yang tengah melanda Eropa.
Benar, dalam beberapa pertandingan ada kasus yang mencoreng. Permainan bulutangkis gajah dan juga pemakaian doping telah mengguncang Olimpiade kali ini. Namun, itu tidak bisa mengurangi kebesaran prestasi yang lahir di London. Di cabang atletik telah muncul legenda baru dengan sukses Usain Bolt mempertahankan gelar sebagai manusia tercepat Olimpiade setelah menyabet medali emas lari 100 meter putra. Ditambah lagi dia sukses menambah emas di lari 200 meter dan estafet 4x200 meter.
Kemudian di kolam renang, Michel Phelps menobatkan diri sebagai atlet terbesar setelah memastikan diri meraih 22 medali (18 emas) selama tampil di Olimpiade. Dia memecahkan rekor yang dipegang oleh atlet Rusia Larisa Latynina yang mengumpulkan 18 medali (9 emas)
Inggris tidak hanya sukses sebagai penyelenggara. Negeri ini juga meraih sukses prestasi dengan keberhasilannya melejit ke posisi tiga besar klasemen pengumpul medali. Inggris hanya kalah dari China dan Amerika Serikat yang menjadi juara umum.
Bagi Indonesia, London juga memberikan kenangan yang tidak bisa dilupakan. Di sinilah tradisi medali emas yang dicetak Indonesia sejak Olimpiade Barcelona, Spanyol, tahun 1992 patah. Indonesia kini hanya bisa membawa pulang satu perak dan satu perunggu dari cabang angkat besi.
Walaupun demikian, terima kasih pantas diucapkan kepada London, Inggris. Mereka sudah bisa menjadi tuan rumah yang sukses. Indonesia juga pantas memberikan ucapan terima kasih, karena dengan kegagalan meraih emas itu diingatkan bahwa Indonesia perlu kerja keras dan melakukan perbaikan secara total dalam membenahi prestasi. ***
|
|