Selasa, 21 Mei 2013
PolitikHukum & KriminalEkonomiBisnisMetropolitanNusantaraOlah RagaInternasionalHiburanOpiniHumor
  
Metropolitan 
Liputan Khusus
Wanita
Sehat
Otomotif
Teknotrend
Wisata
Budaya
Griya
Olah Raga
Games
Pentas
Konsultasi
NORMALISASI WADUK PLUIT
Jokowi Siap Lawan Mafia Tanah
PENANGANAN AIPTU LS
Polisi Didesak Bertindak Transparan
BALEGDA DKI
Dewan Optimistis Penuhi
Target Pengesahan Perda
UNTUK AIR KEMASAN
UGM dan Unpad Bantu
Studi Geohidrologi Air Tanah
PERLINDUNGAN ANAK
Linda: Anak Berkebutuhan Khusus
Harus Terpenuhi Hak-haknya
PERCOBAAN PEMERKOSAAN
Berikan Penangguhan Penahanan
Ditreskrimum Dinilai Ceroboh
PERAN SERTA MASYARAKAT
Turis Asing Ikut Peduli Korban Narkoba
RESAPAN HILANG,/font>
Genangan Air Ganggu Akses Tol Bandara
ASURANSI KESEHATAN
Pemprov DKI Jamin KJS Tetap Jalan
LONGSOR
22 Karyawan Freeport
Masih Terperangkap
KRIMINALITAS
Polisi Tangkapi Anggota Geng Motor
ANGKUTAN KHUSUS
Bus Tingkat Didatangkan
Hanya untuk Wisatawan
arsip  
KRIMINALITAS
Rokib Tewas Dirampok
saat Berpacaran di BKT
KRIMINALITAS
Dua Pembobol ATM
Tewas Didor Petugas
KRIMINALITAS
Polisi Buru Perampok Penumpang Taksi
KRIMINALITAS
Perampok Gasak Emas 1 Kilogram
KASUS PEMBUNUHAN
Kerap Dimaki, EB
Bunuh Teman Kencannya
KRIMINALITAS
2 Pelayan Alfamart Bekasi
Gagalkan Perampokan Bersenpi
arsip  
 
 
AKSI TERORIS
Tim Gegana Geledah Rumah Toriq Lagi,
Disita Bukti Tambahan


Sabtu, 15 September 2012
JAKARTA (Suara Karya): Jaringan teroris di Beji, Depok dan Tambora, Jakarta Barat diisi oleh orang-orang amatiran. Karena itu, Polri meminta dua terduga teroris yang kini kabur segera menyerahkan diri, mengikuti jejak M Toriq dan Yusuf.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigjen Boy Rafli Amar menegaskan, kelompok teroris Depok dan Tambora adalah kelompok peragu alias tidak militan.

"Mereka masih ragu-ragu, masih kurang yakin. Ini kita sambut gembira," kata Boy Rafli di Mabes Polri, Jakarta, Jumat (14/9). Oleh karena itu, Polri mengimbau agar A dan S, dua terduga teroris yang kini masih buron, segera menyerahkan diri mengikuti jejak Toriq dan Yusuf. Toriq, sang calon pengantin akhirnya menyerahkan diri dengan alasan kangen kepada keluarga, sedangkan Yusuf menyerahkan diri atas dorongan orang tuanya di Langkat, Sumatera Utara.

"A dan S masih buron. Kita fokus dua lagi yang belum tertangkap ini. Kita tawarkan untuk menyerahkan diri. Kita terima kasih kalau berminat menyerahkan diri," ujar dia.

Boy mengungkapkan, A dan S diduga ikut dalam kegiatan merangkai bom dan kumpul-kumpul. A dan S, ujar Boy, awal Mei berada di kontrakan jalan Nusantara 63 Beji, Depok. "Tapi, waktu kejadian di Beji, satu orang tidak ada," ungkap dia.

Namun, meskipun amatiran, barang bukti yang disita polisi lumayan banyak. Kemarin, tim Gegana dan tim penyelidik Mabes Polri selama satu jam membongkar kembali rumah Toriq di Jalan Teratai 7, Jembatan Lima, Tambora, Jakarta Barat.

Saat tim keluar dari rumah Toriq, tampak mereka membawa kantong plastik dan tas hitam. Namun, apa isinya mereka tak menjelaskan. "Isinya banyak," kata petugas.

Diduga tim ini mengambil barang yang tersimpan di atap rumah. Di atap itu ada ruangan kecil semacam loteng yang berfungsi sebagai gudang. Dari situ tim mengambil plastik hijau dan buku-buku.

Saat penggeledahan, Toriq sendiri tak tampak. Usai penggeledahan, petugas meninggalkan lokasi setelah memaku pintu rumah. Sejumlah warga sebelumnya foto-foto di rumah ini.

Boy Rafli juga mengungkapkan, dari hasil pendalaman, Polri memastikan bahwa Toriq masih satu kelompok dengan Wahyu Ristanto, Yusuf dan Arif. Wahyu atau Anwar adalah korban ledakan di Beji, Depok, Yusuf, penyewa kontrakan di Depok dan Arif adalah orang yang ditangkap Densus.

Menurut Boy, mereka pernah bertemu pada awal Mei 2012 untuk merencanakan aksinya. Namun, lanjut Boy, sejauh ini belum diketahui siapa yang menjadi pemimpin diantara mereka, karena polisi masih memburu A dan S yang diduga anggota kelompok yang sama.

Pada bagian lain, Boy juga mengungkapkan, Yusuf Rizaldi prnah mengenal pimpinan Jamaah Ansharul Tauhid (JAT) Jakarta, Haris. Yusuf dan Haris pernah bertemu di Jakarta, tahun 2004. Haris sendiri ditangkap polisi karena kasus pelatihan teroris di Aceh tahun 2010.

"Yusuf ini pernah bersama-sama saudara Haris, pimpinan JAT Jakarta, lalu keluar dari Jakarta pada 2004," kata Boy Rafli. Yusuf sebelumnya keluar dari Jakarta ke Aceh untuk menjadi relawan tsunami.

Pada kasus bom Depok, kata Boy, Yusuf berperan sebagai pengontrak rumah atau penyedia tempat. Namun, polisi baru akan memastikan final setelah dua buronan, yakni A dan S tertangkap. Saat ini, lanjut Boy, ketiganya baru diketahui akan merencanakan aksi teror. Namun, sejauhmana peran masing-masing masih dalam penyelidikan polri. (Hanif S)

Politik |  Hukum |  Ekonomi |  Metropolitan |  Nusantara |  Internasional |  Hiburan |  Humor |  Opini |  About Us

Copy Right ©2000 Suara Karya Online
Powered by Hanoman-i