PELECEHAN AGAMA Ribuan Warga Malaysia Kecam Pemerintah AS
SIAP JIHAD - Ribuan demonstran Malaysia mendatangi kantor Kedubes AS di Kuala Lumpur, kemarin, untuk melakukan protes terhadap film Innocence of Muslim. Para demonstran tersebut siap untuk melakukan jihad untuk membela kehormatan umat muslim. (AP)
Sabtu, 22 September 2012
KUALA LUMPUR (Suara Karya): Sekitar tiga ribu demonstran Malaysia menggelar aksi demo anti-Amerika Serikat, Jumat (21/9), di depan Kedubes AS di Kuala Lumpur.
Dalam aksinya, massa membakar bendera AS dan menyatakan siap melakukan jihad untuk menegakkan kehormatan Islam. Aksi itu dilakukan untuk memprotes film amatir Innocence of Muslims yang dibuat di AS. Aksi protes itu berlangsung damai, tanpa insiden kekerasan.
"Kami tak akan membiarkan Nabi dihina. Kami bersedia mengorbankan nyawa dan harta milik kami," kata Tuan Ibrahim Tuan Man, pejabat partai oposisi Pan-Malaysian Islamic Party (PAS) yang memelopori aksi demo itu, seperti dilansir AP, kemarin.
Dalam aksinya, para demonstran berulang kali meneriakkan ucapan Allahu Akbar dan membawa spanduk-spanduk bertuliskan kecaman terhadap Amerika, Yahudi, dan film itu.
Salah satu spanduk bertuliskan "Obama, kesabaran kami ada batasnya. Jangan salahkan kami jika warga negara Anda mati. Salahkan diri Anda sendiri. Anda yang memulainya!"
Para demonstran kemudian menyerahkan sebuah memo kepada pejabat Kedubes AS. Isi memo itu, tuntutan permintaan maaf dari Pemerintah AS dan hukuman maksimum untuk pembuat film. Para demonstran juga menuntut investigasi untuk mengetahui ada tidaknya agenda terencana untuk memicu kebencian dan kemarahan umat Islam. Aksi demo itu menyebabkan penutupan jalan utama di area sekitar Kedubes AS selama sekitar dua jam.
Sementara itu, dari Peshawar, Pakistan, demonstrasi yang dilakukan menimbulkan korban jiwa. Seorang demonstran tewas setelah ditembak polisi saat para demonstran menyerbu sebuah bioskop dan membakarnya.
Korban tewas merupakan seorang sopir yang bekerja untuk saluran TV swasta ARY di Pakistan. Dia mengembuskan napas terakhir di rumah sakit (RS) setelah dalam kondisi kritis usai terkena tembakan polisi.
"Dia didatangkan (ke RS) dalam kondisi kritis. Dia tertembak di dada. Dia dihubungkan ke ventilator usai operasi, namun tak bisa bertahan," kata dokter Mukhtar Khan, Kepala RS Lady Reading, kemarin.
Pria itu terkena tembakan saat seorang polisi melepas tembakan kepada para demonstran yang menyerbu bioskop di kota itu. "Kami menganggap insiden ini pembunuhan. Kami sangat mengecamnya. Polisi yang terlibat dalam insiden penembakan ini harus ditangkap segera dan dipecat," kata direktur ARY, Owais Tohid.
Selain di Peshawar, aksi demo menentang film Innocence of Muslims juga terjadi di Kota Rawalpindi. Sekitar 150 demonstran yang berkumpul di jalan utama menuju ibu kota Islamabad melempari polisi dan mobil-mobil dengan batu.
Dalam seminggu terakhir ini, gelombang aksi demo menentang film yang menghina Islam dan Nabi Muhammad itu terus terjadi di Pakistan. Dua orang telah tewas dalam aksi-aksi protes tersebut.
Perdana Menteri Pakistan Raja Pervez Ashraf pun menyeru warga untuk meluapkan kemarahan mereka atas film Innocence of Muslims dengan cara-cara damai.
Dari Paris dilaporkan, Pemerintah Prancis tidak akan mengizinkan protes jalanan untuk menentang kartun yang menghina Nabi Muhammad Saw yang disiarkan oleh satu mingguan pekan ini.
Menteri Dalam Negeri Prancis Manuel Valls mengatakan, semua prefektur di seluruh negeri itu telah memerintahkan pelarangan setiap protes mengenai masalah itu dan menindak pelaku yang menantang larangan tersebut. "Tak akan ada pengecualian sama sekali. Demonstrasi akan dilarang dan dibubarkan," kata Valls.
Media setempat, Kamis (20/9), melaporkan satu organisasi Islam Prancis berencana menuntut majalah satire Charlie Hebdo terkait dengan penyiaran kartun yang menghina Nabi Muhammad Saw.
Uni Organisasi Islam Prancis mengumumkan organisasi itu akan menempuh jalur hukum terhadap mingguan tersebut karena menghasut kebencian rasial, kata Radio France Internationale di dalam laporan di jejaringnya. (AP/Antara/Kentos)
|
|