| | | Sabtu, 12 Februari 2011 | Pertolongan Tak Terduga Oleh: Gerson Poyk | Tiba-tiba telpon genggamku berdering. "Halo ya, saya sendiri," jawabku.
"Saya dokter dari Klinik Mata Nusantara. Saya, kami, baru saja membaca tulisan tentang Bapak di koran Jakarta Post. Kami ingin mengoperasi katarak Bapak," "Terimakasih, tapi saya tak punya uang," potongku.
| | ...selengkapnya |
| | Sabtu, 12 Februari 2011 | Pertolongan Tak Terduga Oleh: Gerson Poyk | Tiba-tiba telpon genggamku berdering. "Halo ya, saya sendiri," jawabku.
"Saya dokter dari Klinik Mata Nusantara. Saya, kami, baru saja membaca tulisan tentang Bapak di koran Jakarta Post. Kami ingin mengoperasi katarak Bapak," "Terimakasih, tapi saya tak punya uang," potongku.
"Bapak tidak mau? Operasinya gratis," kata dokter yang mengaku bernama Rudi itu.
| | ...selengkapnya |
| | Sabtu, 5 Februari 2011 | Sampurno, Rekan Saya Cerpen Sori Siregar | Saya tidak mengenalnya. Dia juga tidak mengenal saya. Tapi kami saling menyapa. Saling sapa ini terjadi setiap kali kami berpapasan pada saat olahraga jalan kaki hari Selasa, Kamis dan Minggu pagi.
Seingat saya saling menyapa itu telah berlangsung empat bulan. Anehnya, saya maupun laki-laki itu tidak berkeinginan untuk meningkatkan tegur sapa ini dengan berjabat tangan dan berkenalan.
| | ...selengkapnya |
| | Sabtu, 29 Januari 2011 | Bohong Oleh Linda Sarmili |
Bohong. Tak terasa sudah sebulan saya merasakan nikmatnya berpuasa sunah Senin-Kamis. Soalnya, tiba-tiba saja saya merasakan semua orang menjadi baik kepada saya. Itu saya rasakan ketika saya melunasi kredit saya di sebuah bank. Pejabat kepala bagian kredit bank itu mengatakan kredit saya telah lunas. Tetapi saya ngotot bertahan bahwa sisa kredit saya masih Rp 50 juta lagi. Jadi belum lunas. Itulah yang ingin saya lunasi.
| | ...selengkapnya |
| | Sabtu, 22 Januari 2011 | Tia Sudah Tidur Oleh: Aba Mardjani | SADELI tergelagap dijagakan getar ponsel di saku celana dinasnya. Melirik jam dinding di pos jaga, Sadeli, dengan pepat matanya, melihat waktu menunjukkan pukul 01.30. "Siapa yang mengirimkan SMS?" ia membatin sembari merogoh saku untuk mengambil ponselnya. Sangat jarang dia menerima SMS di dini hari seperti ini.
"SANTIA", Sadeli membaca nama dalam monitor ponselnya. Itu nama putri bungsunya. Pasti terpencet, pikir Sadeli pula. Pada jam seperti ini Santia tentulah tengah tertidur lelap bersama Dini di kamarnya.
| | ...selengkapnya |
| | Sabtu, 15 Januari 2011 | Ka-De-eR-Te Oleh: Nadjib Kartapati Z | Sabtu, 15 Januari 2011
Baru saja pulang dari mengajar, di teras sudah ada dua polisi menunggu. Setelah mengucapkan selamat siang, polisi itu menunjukkan surat perintah.
Yang berwajib akan menyidikku dalam kasus KDRT, dan akulah tersangkanya. Sadarlah aku, posisiku terpojok di depan hukum. Istriku untuk kesekian kali membuatku kehilangan muka.
Memang kuakui, aku melakukan kekerasan dalam rumah tangga terhadap Yuni, istriku.
| | ...selengkapnya |
| | Sabtu, 8 Januari 2011 | Sekelopak Mawar Oleh Arpan Rachman | DALAM taman bunga, Wati setangkai mawar. Rahasia hidup kupetik darinya. Dia tahu, bahwa kepadanya aku percaya.
Saat berhadap-dua-duaan semalam, aku selesai jadi manusia. Miliknya jua gembira yang menggetarkan. Tapi konsentrasinya cuma terbatas kelas dan pasar, sekolah dan pekerjaan. Sedangkan aku?
| | ...selengkapnya |
| | Sabtu, 18 Desember 2010 | Patung Oleh: Djunaedi Tjunti Agus | MUSYAWARAH di pendapa kabupaten akhirnya melahirkan kata mufakat. Bupati, anggota DPRD, serta wakil tokoh masyarakat bersepakat di perapatan jalan teramai di kota kabupaten itu akan didirikan patung tokoh paling dihormati di daerah tersebut. Disepakati pula, pengetokan palu atas keputusan pendirian patung akan dilakukan DPRD dalam sidang paripurna.
"Semua peserta musyawarah satu suara. Tak satu pun yang menyanggah. Tapi seperti pembicaraan kita sebelumnya, seluruh dana pembangunannya ditanggung sponsor yang bapak carikan," kata bupati lewat telepon genggamnya, hanya beberapa menit usai memimpin pertemuan.
| | ...selengkapnya |
| | Sabtu, 11 Desember 2010 | Perempuan di Bawah Pohon Oak Oleh Naning Pranoto | Harapan adalah mimpi yang berjalan, kata Aristoteles. Perempuan bertopi anyaman pandan itu berjalan bersamanya. Ia menyusuri jalan setapak berkelok yang menggurat hamparan kebun sebuah penjara di Creek, bertengger di bagian Bumi Paman Sam.
Harapan itu, ia ingin segera sampai di titik kebebasan, walau kedua kaki dan tangannya masih dalam ikatan borgol waktu yang relatif panjang. "Masih enam tahun lagi aku di sini," tuturnya setengah berbisik.
| | ...selengkapnya |
| | Sabtu, 4 Desember 2010 | Pukul Sebelas Malam Oleh Saut Poltak Tambunan |
PUKUL sebelas malam, supir tergesa membukakan pintu. Langfkah Asikin terhenti, matanya nyalang mencari-cari sesuatu yang sudah lama hilang dari rumah ini. Di garasi hanya ada mobil isterinya, mobil si kembar Wandi dan Winda tak ada. Begitu pula sepeda motor Ato.
Asikin melangkah ke teras. Tiwi, pembantu menyambut dengan pintu lebar, selebar senyumnya.
"Ibu mana?" tanya Asikin.
| | ...selengkapnya |
|
|