| | | Sabtu, 30 Januari 2010 | Bermuka Dua Oleh Djunaedi Tjunti Agus |
Munaf tiba-tiba saja merasa ada yang aneh. Kepalanya, di bagian belakang, bergerak-gerak. Kemudian seperti ada yang tumbuh. Untuk memastikan apa yang terjadi dia mengangkat tangan dan merabakan telapak tangannya ke kepala bagian belakangnya.
Dia kaget bukan kepalang. Munaf merasakan di kepala bagian belakangnya tak ada lagi rambut, berubah total membentuk wajah baru. Ada mata, ada hidung, ada kumis, ada mulut.
"Duh, kok saya bermuka dua?"
Dia berlari menuju toilet. Di depan cermin di ruang kamar kecil itu dia berkaca.
| | ...selengkapnya |
| | Sabtu, 23 Januari 2010 | Paman Darajat Oleh Adek Alwi |
Paman Darajat, adik bungsu ibu, suka melihat peta Indonesia. Kalau ia mudik usai Lebaran dan bermalam di rumah kami dengan istrinya, pasti dia buka-buka atlas yang ada di meja belajarku. Jika tak ia jumpai, akan dia tanya, "Eh, mana petamu?" Aku pun buru-buru mencari atlas di sela buku lalu kuserahkan padanya. Setelah dua-dua kali begitu, aku dapat ide. Selain yang ada di meja, aku bingkai peta Indonesia dan kugantung di dinding. Nah, saat paman datang lagi peta-peta itu dipandangnya lama-lama sambil tersenyum dan manggut-manggut bak guru ilmu bumiku di sekolah dasar.
| | ...selengkapnya |
| | Sabtu, 16 Januari 2010 | Terompet Oleh Faradina Izdhihary |
Ini gak bisa didiamkan lagi, Pak Camat. Harus segera diambil tindakan! Demikian Sapuan menyampaikan usulannya kepada pimpinan di kecamatan itu, baru-baru ini. Usulan itu disampaikan dengan penuh kemarahan. "Ya benar, Pak Camat. Kita laporkan polisi saja! Kebiasaan Trisno benar-benar menganggu ketentraman warga," tambah Suratno pula.
Warga lain mengamini saja pendapat keduanya. Pak RT yang memimpin warga berdemo di kantor kecamatan, kemudian berkata dengan suara yang diatur dengan baik, agar terdengar wibawa.
| | ...selengkapnya |
| | Sabtu, 9 Januari 2010 | Setelah 100 Hari Oleh DTA Piliang | "Tak ada yang perlu dikhawatirkan. Ekonomi secara nasional membaik. Lapangan kerja terbuka lebar. Kebutuhan pokok masyarakat terpenuhi. Kondisi ekonomi secara nasional jauh lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya."
Apa yang dikatakan Rosa dalam diskusi kali ini mengagetkan saya. Pendapatnya sangat bertolak belakang dibanding ketika kami baru kenal. Dulu dia begitu kritis, kerap mengkritik pemerintah, selalu mengklaim memperjuangkan nasib rakyat.
| | ...selengkapnya |
| | Sabtu, 2 Januari 2010 | KRL (Kereta Rel Listrik atawa Komunitas Rakyat Lemah) Oleh Gita Nuari |
Pukul 04.45 pagi, aku sudah di stasiun Citayam. Penumpang kereta KRL sudah berjubel di peron stasiun. Anak sekolah, guru, pedagang, sopir, pegawai, karyawan sampai copet pun sudah berada di dalam stasiun. Yang beli karcis, yang pakai abonemen, yang tidak beli karcis sama saja jadi penumpang kereta di stasiun Citayam, sebelah selatan Depok pagi itu.
Antara penumpang yang sudah bertahun-tahun menggunakan jasa KRL, tentu sudah saling kenal satu sama lain. Terutama yang tidak pernah pindah-pindah gerbong saat naik menuju tempat kerja ataupun saat pulang kerja.
| | ...selengkapnya |
| | Sabtu, 26 Desember 2009 | Fenomena Oleh Maghfur Saan | Sungguh fantastis! Tiba-tiba pemahat yang biasa menjajakan hasil pahatannya ke segenap lorong dan jalan itu mendadak terkenal.
Hasil pahatannya diburu orang. Tiap hari ratusan bahkan ribuan orang datang ke rumahnya ingin mendapatkan hasil pahatannya itu. Tentu saja ia tak pernah lagi menjajakan ke mana-mana.
Anehnya berapapun banyak pesanannya selalu disanggupi. Semua pembeli juga merasa senang.
Padahal lelaki setengah baya itu tidak pernah kuliah di jurusan seni termasuk seni pahat. Ia hanya lulus SMP dan belajar memahat secara otodikdak.
| | ...selengkapnya |
| | Sabtu, 19 Desember 2009 | J u l e h a Oleh Weni Suryandari | Sudah sepekan ini Julaeha - gadis dusun yang diangkat anak oleh mak Rosyidah - mendekam di balik jeruji besi. Tak tergambar kelelahan atau mimik sedih karena mendekam di sel kaku itu. Wajahnya bahkan terlihat dingin jika ada tamu, kerabat atau famili yang mengunjunginya. Ia tahu kesalahannya apa, dan sudah tahu resikonya. Tapi ia puas.
| | ...selengkapnya |
| | Sabtu, 12 Desember 2009 | Sepeda Motor Tua Oleh Djunaedi Tjunti Agus |
"Itu semua menjadi hak Anda. Atas nama perusahaan, saya menyampaikan terima kasih atas segala jerih payah Anda selama bergabung dengan perusahaan ini."
Wartawan itu tak berkomentar apa-apa. Matanya lurus memandang selembar cek yang ada di tangan kiri. Di tangan kanannya tergenggam selembar surat tanda terima yang harus dia tanda tangani.
Sesaat kemudian dia menghela napas, sangat dalam.
| | ...selengkapnya |
| | Sabtu, 5 Desember 2009 | Selimut dari Nona Clara Oleh Candra Malik | Cirebon, pukul 00:38.
Aku penumpang yang terakhir turun. Belum lama kereta api Senja Utama Solo berhenti, lokomotif sudah meraung lagi, disusul lengking peluit kepala stasiun. Sinyal lalulintas berubah dari merah ke hijau.
Kondektur melambai entah kepada siapa. Mungkin kepadaku, kami tadi sempat berbagi api di restorasi.
Kujelajahi stasiun.
Tak kudapati rekah bibirmu di lengang malam. Padahal, kau janji menjemputku dengan memakai topi motif bunga, berjaket kulit, dan bercelana cutbray.
| | ...selengkapnya |
| | Sabtu, 28 Nopember 2009 | Keumala Menanti Kekasih Oleh Alimuddin |
Perempuan itu Keumala. Perempuan berbola mata biru dipadu-padan otak yang mampu menjawab segala hal rasa-serasanya. Dua modal yang membuat Keumala, seperti kristal bening yang mengeluarkan denting-denting halus. Keumala ratu di taman kembang. Ini hari terakhir wanita itu duduk di teras depan rumahnya-menanti kekasih. Besok tak akan lagi.
Yang memiliki harum menyegarkan terik siang. Usia belia, ikut memperdalam jikalau kembang itu punya magnet lain selain wajah ayu.
| | ...selengkapnya |
|
|