PolitikHukum & KriminalEkonomiBisnisMetropolitanNusantaraOlah RagaInternasionalHiburanOpiniHumor
  Arsip Berita   
Liputan Khusus
Wanita
Sehat
Otomotif
Teknotrend
Wisata
Budaya
Griya
Olah Raga
Games
Pentas
Konsultasi

 
 
Sabtu, 6 Desember 2008
Antara Dover dan Calais
Oleh Sunaryono Basuki Ks
Dalam tempo enam tahun pelabuhan ferry Dover di pantai berbukit batu itu mengalami kemajuan pesat. Pada bulan Februari tahun 1987, sepekan sebelum tenggelamnya ferry di selat Inggris yang menghebohkan dunia itu, aku juga menyeberang dari Dover. Sudah malam, yang kutahu adalah bangunan berupa rumah minum dan penjual makanan.
...selengkapnya
Sabtu, 29 Nopember 2008
U L A R B U N T U N G
Oleh Beni Setia
DUA PULUH LIMA tahun yang lalu tak ada jembatan P. Maksudku, jembatan beton bertulang dengan pengaling dinding yang juga beton, semacam tepi pembatas tempat kami duduk bersijuntai, berkumpul dan mengobrol di petang hari. Karena, sebenarnya saluran irigasi pengairan itu sudah ada sejak lama, sejak disiapkan untuk industri tebu, sebagai pamasok pabrik gula di M -- yang sengaja dibuat pemerintah kolonial Belanda,
...selengkapnya
Sabtu, 22 Nopember 2008
Malam Pertama
Oleh Nadine Tri Duhita
Pesta empat hari empat malam dari perkawinan Arti dan Pramono hampir berakhir. Tinggal beberapa tamu yang masih menghabiskan minumnya yang terakhir sambil melirik ke arah mempelai berdiri seakan mengerti bahwa kehadirannya tak lagi diharapkan. Bunga anggrek kuning berseling putih cantik memberi senyum selamat malam pada Arti yang berhati risau. Tidak karena malam ini malam pertamanya.
...selengkapnya
Sabtu, 15 Nopember 2008
T H U Y U L
Cerpen Sri Wintala Achmad
Kampung Ngudi Tentrem geger. Yeyen menyiram air panas ke seluruh tubuh suaminya yang masih mendengkur di kamar tidur. Berita tersebar, pelacur terminal itu mendakwa, sebagian uangnya di dalam almari telah dicuri suaminya buat mabuk. Sebagian lainnya diberikan pada Diana. Janda beranak dua di samping rumahnya yang selalu dikeloni sebelum Yeyen pulang dari terminal.
...selengkapnya
Sabtu, 8 Nopember 2008
Surat Dalam Hujan
Cerpen: Rohyati Sofjan
HUJAN. Selalu demikian di bulan Nopember ini. Hujan benar-benar mewarnai hari. Sore. Ya, pukul empat lebih, hujan seperti pantulan manik-manik kaca menderas seketika dengan anggunnya. Aku menyesal, sumur di luar pasti akan keruh lagi airnya, mestinya diberi atap nanti. Hujan. Aku duduk di sini, dekat jendela kaca memerhatikan curahan air yang mengguyur serentak dari udara.
...selengkapnya
Sabtu, 1 Nopember 2008
Tangan yang Bercahaya
Cerpen: Dianing Widya Yudhistira
"INI kutukan!," teriak seseorang memecah keheningan yang gersang. Orang-orang yang memenuhi tanah lapang itu terhenyak. Mereka memandang ke seseorang yang berteriak. Sementara orang yang berteriak kebingungan, mengapa orang-orang memandangi dirinya? Jauh di atas sana ribuan kilometer, matahari melata. Udara meruap panas. Masing-masing orang yang berkumpul di tanah lapang itu menyeka keringat dengan ujung kain yang sudah basah oleh keringat.
...selengkapnya
Sabtu, 25 Oktober 2008
Mayat yang Hidup Kembali
Cerpen Gita Nuari
Aku masuk ke dalam tubuh orang yang sudah mati. Orang-orang yang sedang berkerumun mengajikan sesosok jenazah tak melihat aku masuk ke dalam tubuh yang sudah terbaring kaku itu. Kemudian aku bangkit. Orang-orang yang sedang mengaji itu sontak berdiri lalu berlarian keluar rumah. "Bang Rojak hidup lagi! Bang Rojak hidup lagiii!" Teriak beberapa orang yang panik berlarian keluar dari rumah Bang Rojak yang baru saja meninggal.
...selengkapnya
Sabtu, 18 Oktober 2008
G e l a p
Cerpen: Teguh Trianton
Sebenarnya perasaan takut pada ruang yang gelap itu bukan monopoli anak kecil di bawah usia lima tahun. Gelap yang mengurangi fungsi organ optik manusia, acap kali mengecoh, dan menyesatkan pandangan ini juga menjadi sejenis siksaan paling menakutkan bagi Tiska. Setidaknya sejak tiga tahun silam. Sejak tiga tahun silam, perasaan takut, trauma, paranoid pada kegelapan sudah mendera Tiska dan menjadi sejenis resiko yang tak mudah ditawar,
...selengkapnya
Sabtu, 11 Oktober 2008
Setelah Lebaran
Cerpen: Beni Setia
Sejak jauh-jauh hari, saya sudah memutusan tidak akan mudik tahun ini. Menyakitkan memang. Tapi sejak setengah tahun lebih saya menghibur diri menikmati prosesi jajaran keres tumbuh melebat di sempadan irigasi depan rumah - pohon liar yang buahnya teramat disenangi anak-anak itu tumbuh membesar, merimbun dengan percabangan liat. Menaungi jalan tak resmi, yang terdiri dari 2 meter tanah pengairan dan 2 meter wakaf dari pemilik tanah.
...selengkapnya
Sabtu, 27 September 2008
M u a l a f
Cerpen: Djunaedi Tjunti Agus
"Pa, sini deh. Mana tangannya. Taruh sini. Terasakan gerakannya?"
"Ya.., ya.," kata saya.
Aku mengelus-eluskan telapak tangan ke perut istriku yang buncit.
Narti, istriku, terlihat senang. Senyumnya mengambang.
"Laki-laki atau perempuan sama saja kan? Kita harus siapkan dua nama ya, Pa?"
"Tapi dokter kan bilang kemungkinan anak kita laki-laki," jawab saya.


...selengkapnya
12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 
 

Politik |  Hukum |  Ekonomi |  Metropolitan |  Nusantara |  Internasional |  Hiburan |  Humor |  Opini |  About Us

Copy Right ©2000 Suara Karya Online
Powered by Hanoman-i