| | | Sabtu, 27 Oktober 2012 | I b u Oleh: Djunaedi Tjunti Agus | Rasanya baru terjadi kemarin. Kadang tangan masih kerap reflek mengusap pipi, menghapus air mata yang sudah tidak ada. Lebaran Idul Adha lalu entah kenapa terasa lain, begitu takbir berkumandang bagda maghrib, usai berbuka puasa sunnah Arafah, serasa ada yang hilang. Esok paginya ketika siap-siap shalat di lapangan serba guna di samping masjid, relung hati terasa kosong. Air mata mengalir deras mengiringi gema takbir.
| | ...selengkapnya |
| | Sabtu, 20 Oktober 2012 | P A R A N O I D Oleh Lina Husaini | Aku melipat dan memasukkan kembali surat itu ke dalam amplop bertuliskan "Kilat Khusus". Hati dan pikiranku kosong. Hm, apa yang akan aku katakan kepada Dita ? Dita adalah sahabatku.
Sejak pertama kali aku menginjakkan kaki di kelas satu SMA, Dita-lah yang sangat dekat denganku.
Entah mengapa, mungkin karena kami merasa banyak kecocokan, sehingga kami menjadi dua sahabat yang sangat kompak.
| | ...selengkapnya |
| | Sabtu, 13 Oktober 2012 | Salah Asuhan Cerpen: Riswan Muhammad |
Di Cafe Morisetta yang ada di sebuah hotel mewah dikawasan Thamrin, Jakarta, aku telah tercatat sebagai member sejak 2 tahun lalu. Di sana sejumlah eksekutif puncak sering meeting, membutuhkan beberapa wartawan untuk menjadi saksi pembicaraan penting mereka.
Ketika lunch time tiba, aku tak kebagian kursi di antara rekan-rekan sendiri.
| | ...selengkapnya |
| | Sabtu, 29 September 2012 | Terperangkap Kilau Warna Oleh Diani Rosela | Saya lupa persisnya kapan kota ini berubah menjadi perkampungan kecemasan. Malam hari, jalanan lengang. Pasar sepi. Tak ada lagi anak-anak muda yang duduk santai di pinggir jalan, juga tak ada lagi yang bercanda, bermain gitar sambil menyanyi dan berjoget ria. Orang-orang hanya menunggui berita demi berita di depan televisi dengan wajah getir. Siang hari, para lelaki tampak membentuk kelompok-kelompok kecil di warung warung kopi, mulut gang, bahkan di ruang-ruang kantor, asyik membincangkan sasus yang sedang beredar.
| | ...selengkapnya |
| | Sabtu, 22 September 2012 | Sepatu Sebelah Oleh: Saut Poltak Tambunan |
SENJA Jogja mulai merapatkan dekapnya untuk menidurkan matahari. Pulang mengajar dari kampus, Kusmito temukan lagi bingkisan serupa di locker-nya. Kusmito termangu duduk di tempat tidur, menatap galau bungkusan yang diletakkannya di atas meja.
Ukurannya sedang saja, meski tampak sedikit lebih besar dari kiriman-kiriman sebelumnya. Tak ada keinginan untuk buru-buru membukanya sebab sudah bisa memastikan isinya: Sepatu sebelah kiri.
| | ...selengkapnya |
| | Sabtu, 15 September 2012 | Memeluk Ibu Oleh: Mashdar Zainal |
Aku sangat mencintai istriku. Tapi aku lebih mencintai ibuku. Maka, ketika istriku mengatakan 'kau pilih aku atau ibumu?' tanpa keraguan sedikit pun aku menjawab 'aku masih bisa menemukan puluhan wanita yang mungkin lebih baik darimu, tapi aku tak yakin bisa menemukan seorang saja, yang seperti ibuku.'
| | ...selengkapnya |
| | Sabtu, 8 September 2012 | Antara Aku dan Istriku Oleh: Ilham Q. Moehiddin |
JIKA murka, wajahnya bengis dalam seribu bentuk. Kemarahan yang seharusnya tak kulihat. Ah, mengapa aku tak berlama-lama di kantor saja. Atau singgah ke pasar, barang sebentar. Berpura-pura memilih barang, atau membunuh waktu di lapak koran. Atau, berpura-pura kesakitan usai singgah dari dokter ahli tulang.
| | ...selengkapnya |
| | Sabtu, 1 September 2012 | Gundul-gundul Pacul Cerpen: Oleh Sunaryono Basuki Ks |
Pada mulanya Nizar tidak berfikir mengenai bernazar, sebab kehidupannya berjalan lancar. Percintaan dan kemudian pernikahannya dengan Rondang juga lancar-lancar saja, mereka nampak sebagai pasangan yang sangat berbahagia. Sebagaimana pasangan-pasangan pengantin yang lain, Nizar dan Rondang juga berharap segera mendapatkan momongan.
| | ...selengkapnya |
| | Sabtu, 25 Agustus 2012 | Ratu Sekop Oleh Hery Firyansyah | Saya beradu mata dengannya pertama kali kira-kira sebulan lalu. Saat itu pukul sebelas malam. Jalan Melawai Raya macet total. Agak lupa penyebabnya. Tetapi saya pasti ingat wajah itu: rambut sebahu, tulangpipi agak tinggi, serta sepasang bibir yang tampaknya tak begitu mahir menyulam senyum. Ia menukar tatapan saya dengan tikaman matanya, dan terus mengunci sudut pandang itu samai mobil saya beranjak menikung.
| | ...selengkapnya |
| | Sabtu, 18 Agustus 2012 | Bulan di Malam Lebaran Oleh: Sutirman Eka Ardhana | PESANTREN tempatku belajar mengaji Al-Quran setiap sore itu sebenarnya lebih pantas disebut sebagai madrasah biasa. Bangunannya sederhana, tidak terlalu besar, dan ruangannya pun hanya ada tiga lokal. Setiap lokal idealnya hanya untuk 35 sampai 40 orang. Tapi kenyataannya, di pesantrenku, setiap lokal dijejali murid atau santri sampai 50 orang lebih. Pengajarnya pun hanya tiga orang, Ustadz Nurdin dibantu isterinya, Ustadzah Syarifah, dan Ustadz Maksum.
| | ...selengkapnya |
|
|