| | | Sabtu, 11 Agustus 2012 | Mei Lie Oleh: Djunaedi Tjunti Agus | "Saya orang China, tapi jiwa saya Indonesia," kata wanita yang ada di depanku sambil mengulurkan tangan, sesuatu yang tak diduga.
"Nama saya Mei Lie, tapi teman-teman mengenal saya dengan nama Meysa," tuturnya lagi.
Benar-benar tak disangka, karena sebelumnya dalam beberapa kali pertemuan tidak sengaja, gadis itu terkesan angkuh, tidak mau kenal.
| | ...selengkapnya |
| | Sabtu, 4 Agustus 2012 | Telapak Kaki Ibu Oleh Weni Suryandari | Ibu sudah pergi. Kamarnya kosong, dapur pun sepi. Darah kental menggenangi lantai semen, merembesi keset di depan kamar mandi. Suasana senyap mengepungku. Agaknya seekor burung gagak raksasa telah puas bermain-main di rongga kepalaku semalaman. Pagi ini kepalaku terasa bolong.
| | ...selengkapnya |
| | Sabtu, 28 Juli 2012 | Ramalan Papa Oleh Dwi Rejeki | Ayah memang selamanya begitu. Diam saja kalau dipojokkan oleh gerutuan ibu. Tapi laki-laki yang bekas tentara, bertulang dada kukuh dengan sorotan mata yang tajam itu, akan membalikkan omelan ibu esoknya. Bukan dalam bentuk dampratan. Sambil bercanda, lalu mengecup kening ibu, papa akan membalikkan seluruh dampratan itu menjadi sebuah jawaban telak. Dan ibu sering terkecoh oleh strategi papa. Suatu siasat militer yang ampuh.
| | ...selengkapnya |
| | Sabtu, 21 Juli 2012 | Buka Puasa Bersama Ibu Oleh Adek Alwi | SUDAH berapa lama aku tak berbuka puasa bersama ibu? Sepuluh tahun? Dua puluh? Atau, lebih tiga puluh? Ah, rasanya memang sudah lama sekali. Sangat lama, sejak aku merantau di Jakarta dan hidup dipadati kesibukan dari hari ke hari, waktu ke waktu; mendirikan tiang-tiang keberhasilan dengan tebusan terlepas dari kebahagiaan yang sudah dipunyai, seperti berpuasa dan berbuka di dekat ibu, bersama ibu.
| | ...selengkapnya |
| | Sabtu, 14 Juli 2012 | Bulan Pergi dari Jembatan Oleh Sihar Ramses Simatupang | Malam yang dingin masih menggerayang dan mengacak-acak tubuhnya serupa lelaki asing. Dia siaga. Dipeluknya sang anak, sambil meyakinkan bahwa kejadian kemarin malam bukan kejadian yang nyata dan menjadi bagian dari kehidupannya sehari-hari.
Tapi lelaki itu sungguh Yanuar, yang dikiranya setia dan tak akan pernah menjadi binatang jalang serupa lelaki yang lain. Tapi hidung Yanuar telah berair, air di hidungnya serupa dengan anjing yang lain.
| | ...selengkapnya |
| | Sabtu, 30 Juni 2012 | Di Batas Petualangan Oleh Chaerul Abshar | Hulu Kapuas, tepat 10 tahun lalu. Dayan masih bisa mengingat bagian dari petualangan panjangnya di masa mahasiswa. Agak sedikit nekad, hanya bertiga, mereka ingin melintasi Pulau Kalimantan dari Barat ke Timur. Dari Pontianak ke Samarinda. Menyusuri Sungai Kapuas, menyeberangi Pegunungan Muller, dan turun kembali menyusuri Sungai Mahakam.
| | ...selengkapnya |
| | Sabtu, 23 Juni 2012 | Nostalgia Oleh Beni Setia |
PADA acara launching kumpulan puisi Pines, Jejak Langkah, Pinut spontan maju untuk mensiceritakan proses kreatif puisi-puisi lama Pines yang dikumpulkan dan dipilih olehku, kemudian diterbitkan. "Dahulu kami ini seperti tiga serangkai bersastra, dengan kegembiraan seorang punakawan yang tidak pernah memikirkan masa depan, pekerjaan, penghasilan, istri, dan terutama anak," katanya,setelah menceritakan satu per satu puisi lama Pines yang dikenalnya, yang spontan dipilih secara acak dan hapal di luar kepala.
| | ...selengkapnya |
| | Sabtu, 16 Juni 2012 | Lelaki Bertato Kembang Oleh Linda Sarmili | Pria bertato kembang di lengan kanannya itu selalu duduk di pojok kursi Cafe setiap saya pulang kuliah, sekitar jam lima sore. Entah minuman apa yang ada di depannya, berapa lama dia duduk mendengarkan lagu-lagu yang diputar penjaga cafe, dan apa yang dikerjakannya. Saya tidak tahu dan rasanya tidak ingin tahu.
| | ...selengkapnya |
| | Sabtu, 9 Juni 2012 | V o n i s Oleh Faradina Izdhihary | Di hadapanku Mas Hanung duduk dengan wajah gelisah. Aku sudah dapat menebak berita apa yang hendak ia sampaikan padaku. Dadaku sesak. Beberapa saat kami hanya saling berdiam diri. Sipir tahanan yang berdiri tak jauh dari tempat kami duduk, mengawasi kami dengan pandangan tajam. Kucoba menenangkan diri. Hasilnya aku malah terseret kegelisahan Mas Hanung.
| | ...selengkapnya |
| | Sabtu, 2 Juni 2012 | Bumi dan Langit Melindungiku Oleh Sunaryono Basuki Ks |
Wayan berjalan tersaruk-saruk di tanah becek menuju tanah tegalan yang ditumbuhi batang-batang kelapa yang sudah tua buahnya. Walau kakinya terasa sakit, dia terus melangkah sebab ingin segera memanjat batang-batang kelapa itu dan memetik buahnya. Sudah waktunya dia memetik buah kelapa, dan hasilnya harus segea dijual dan uang penjualannya diserahkan pada Gusti Made yang tinggal di rumah besar di kota. Hampir tidak pernah Gusti Made datang menengok kebun kelapanya, dan mungkin juga tak peduli mengenai hal itu. Anak-anak Gusti Made juga tak ada yang tinggal di kota itu, kebanyakan sudah merantau ke Surabaya dan Jakarta. Yang paling dekat tinggal di Denpasar.
| | ...selengkapnya |
|
|